25 April 2018

Ihwal Cuci Otak



Karya ilmiah Mayjen dr Dr Terawan Pu-tranto, Sp Rad telah melewati sidang penguji dan memberinya gelar doktor. Metode diagnosis DSA (digital subtraction angio-graphy) itu kemudian dipraktikan dalam terapi.

Penelitian itu telah menghasilkan enam doktor dan 12 makalah di jurnal ilmiah internasional. Juga sudah dipatenkan di Jerman dan diterimakasihi banyak pasien yang telah sembuh berkat terapi penggelontoran di dalam arteri dengan heparin tersebut.

Apakah itu sudah cukup? Menurut Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), belum. Bahkan dr Terawan disebut sebagai pelanggar etik-kedokteran, meski kemudian IDI menyerahkan kasus ini kepada Kementerian Kesehatan.

Sikap MKEK/IDI dapat dimengerti. MKEK/IDI memang otoritas penjaga marwah profesi dokter dan harus menegakkan rambu-rambu etika kedokteran. Syukurlah', Kementerian Kesehatan bersedia memfasilitasi kasus ini dengan metode ilmiah kedokteran.

Kalau "cuci otak ala Terawan" secara ilmiah diragukan kebenarannya, sebaiknya memang diuji saja (lagi), dengan melibatkan para ahli yang berkepentingan, termasuk promotor dan kopromotor dr Terawan beserta dewan penguji dalam promosi doktor dr Teragan di PDIK Unhas. Tentu hasilnya tidak akan benar sempurna secara mutlak. Maka, lalu perlu ditimbang, lebih besar mana risiko mudaratnya dibandingkan dengan potensi manfaatnya.

Dalam ekofilosofinya, Henryk Skolimowsky (Universitas Michigan, Ann Arbor) menganjurkan untuk menenggang gejala transfisis, artinya bersikap toleran terhadap fenomena baru yang belum sepenuhnya dimengerti. Toleran tak berarti menelan begitu saja, tetapi bersikap terbuka: memeriksa dan mempertimbangkan.

Semoga MKEK/IDI dan kita semua mengindahkan Skolimowski itu. Jangan ekstrem. Bersikap ugaharilah. Kalau secara ilmiah tak'ada masalah, tetapi untuk diterapkan dalam terapi sumbatan saluran darah ke otak harus lulus uji klinik dulu, sebaiknya dr Terawan bersedia metode "cuci otak'-nya diuji klinis. Bila layak diterapkan, tentunya perlu mengikuti prosedur yang berlaku.


Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Kompas tanggal 25 April 2018.