18 Januari 2018

Penegakan Disiplin Di Jalan Raya



MEMINJAM ungkapan Asep Sapa'at dalam buku Setop Menjadi Guru, jika Anda mahir menyetir, pasti mudah bagi Anda untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Kemahiran menyetir modal Anda lulus ujian mendapatkan SIM. Namun, jika perilaku berlalu lintas Anda tidak disiplin, sudah dipastikan Anda takkan pernah mendapatkan SIM.

Di Kanada, seseorang yang pandai menyetir, belum tentu dia akan memperoleh SIM jika pada saat dilakukan tes mengemudi orang tersebut hanya mendemonstrasikan ketrampilannya menyetir tanpa mengindahkan kedisiplinan dalam berlalu lintas. Sebaliknya, seseorang yang belum begitu mahir menyetir bisa mendapatkan SIM bila pada saat dites sudah memperlihatkan prilaku menyetir yang baik dengan mengeda-pankan sikap disiplin berlalu lintas. Menarik bukan? Senada dengan yang diungkapkan dalam buku tersebut, tidak semua orang bisa mendapatkan izin menyetir, tidak terkecuali siswa sekolah. Ada beberapa aspek yang patut menjadi pertimbangan, baik dari segi usia maupun kemahiran dan kedisplinan.

Bagi sebagian pelajar yang belum memiliki tentu akan menjadi pemandangan yang menarik ketika mengendarai di jalan raya. Mereka harap-harap cemas apabila mendadak melihat petugas kepolisian melakukan operasi. Meskipun demikian, masih banyak pelajar yang di bawah umur yang membawa motor ke sekolah. Bahkan, siswa SD pun yang tidak semestinya mengendarai motor dengan mudahnya keluar masuk jalan raya mengendarai motor tanpa memiliki surat-surat kendaraan.

Keefektivan dan efesien waktu diduga menjadi alasan kuat orangtua memberikan kebebasan dalam berkendara. Tidak salah mengajari anak mahir mengendarai motor, namun bukan berarti diberikan keleluasaan tanpa melihat efek yang akan diterima. Memberikan ilmu berkendara ialah hal penting. Namun, jika semua aspek berkendara belum terpenuhi, sama saja dengan kita menggadaikan keselamatan kita.

Dengan berbagai risiko yang mengancam keselamatan siswa, bolehkah siswa membawa motor ke sekolah? Merujuk pada peraturan yang sudah ada. sekalipun dianggap lihai membawa motor, tetapi apabila belum memenuhi persyaratan, tetap saja merupakan pelanggaran. Barangkali orangtua dan para guru sudah mengetahui, awal mula terjadinya kecelakaan lalu lintas ialah karena adanya pelanggaran. Kebanyakan pelanggaran didominasi oleh pengendara yang belum memiliki surat-surat berkendara, salah satunya ialah siswa sekolah.

Maraknya pelajar membawa motor tentu berdasarkan atas pertimbangan. Membawa motor diduga efektif untuk cepat sampai ke sekolah. Selain itu, menggunakan transportasi umum dianggap memberatkan. Selain biaya yang dibutuhkan cukup besar, siswa juha harus berjuang melawan ketidaknyamanan di dalam angkutan umum. Misalnya terganggu dengan asap rokok, sempit dan tergolong lambat karena harus berhenti setiap saat untuk menunggu penumpang. Inilah yang menjadi alasan siswa belum mau memakai jasa kendaraan umum, dengan dalih akan membuat siswa terlambat ke sekolah.

Pihak sekolah dan aparat mungkin belum bisa memberikan efek jera bagi siswa yang membawa motor ke sekolah. Orangtua merupakan aktor yang paling berpengaruh untuk membatasi siswa mengendari motor ke sekolah. Sebab, orangtua-lah yang memulai anak untuk bisa membawa dan memfasilitasi. Orangtua punya banyak hari untuk memberikan pelajaran kepada anak akan pentingnya disiplin di jalan raya.

Mendisiplinkan siswa tidak membawa motor ke sekolah merupakan salah satu bentuk kita taat hukum. Apabila hal kecil saja bisa ditaati, tentu peraturan yang lebih besar pun akan dipatuhi. Berusahalah untuk jadi siswa yang patuh terhadap hukum.

Fauzas Su'ufan
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN SMH Banten

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Media Indonesia tanggal 18 Januari 2018.