12 Desember 2017

Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat



INDONESIA yang terletak di kawasan cincin api (ring offire) dengan dua jalur gempa, yaitu cincin api Pasifik (Pacific ring of fire) dan juga sabuk Alpide (Alpide belt). Hal itu membuat negeri ini berlangganan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan banjir. Tengok saja sepanjang 2015, Badan Penanggulangan Bencana mencatat setidaknya 1.582 bencana terjadi di Indonesia serta memakan korban yang tidak sedikit.

Bahkan selama 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana, melonjak 35% jika dibandingkan dengan 2015. Angka ini menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, merupakan yang tertinggi sejak pencatatan kejadian bencana pada 2002. Dampak yang ditimbulkan pun demikian dahsyat, yakni menyebabkan 522 orang meninggal dan hilang; 3,05 juta jiwa mengungsi dan menderita; serta 69.287 unit perumahan rusak, 9.171 rusak berat, 13.077 sedang, 47.039 ringan, dan 2.311 unit fasilitas umum rusak.

Sementara itu, khusus bencana gempa, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat merilis peta gempa baru yang menyebutkan 295 sesar aktif di seantero Indonesia. Berbagai bencana tersebut tentu jangan diratapi, tapi bisa menjadi bahan evaluasi mitigasi bencana serta pijakan dalam menyusun standardisasi pembangunan perumahan yang tahan gempa. Pemerintah dan rakyat patut bersinergi dalam mewujudkan misi ini.

Apalagi, di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta yang notabene merupakan daerah rawan gempa, sudah seharusnya pemerintah daerah memikirkan solusi kebijakan standar infrastruktur baik publik maupun individu. Memiliki relief bumi atau topografi yang ekstrem merupakan sesuatu yang mestinya menjadi pertimbangan untuk menggagas pembangunan pascagempa berbasis masyarakat secara serius agar korban dan kerugian dapat ditekan seminimal mungkin.

Pembangunan perumahan sementara yang sifatnya responsif seperti yang selama ini kerap dilakukan tampaknya perlu dikembangkan untuk jangka panjang. Sebabnya, bencana yang terjadi bukan lagi kejadian luar biasa, melainkan biasa rutin terjadi setiap tahun.

Paradigma keliru tentang gempa perlu diluruskan agar semua masyarakat siap siaga menghadapi bencana gempa apabila saatnya tiba. Begitu pun bangunan harus tahan gempa dan ramah lingkungan patut dipikirkan secara serius oleh seluruh elemen pemerintah dan rakyat.

Melalui manajemen risiko pembangunan, diharapkan semua pihak siap saat bencana muncul. Dalam manajemen risiko pembangunan ini. ada lima hal penting yang harus patut kita perhatikan, yaitu prediksi (prediction), peringatan (warning), bantuan darurat (emergency relief), rehabilitasi (rehabilitation), dan rekontruksi (reconstruction). Meskipun demikian, hal yang patut diperhatikan ialah aspek desain struktur dan manajemen pembangunan pascagempa.

Jika ditinjau dari manajemennya, ada alternatif model perencanaan atau pembangunan yang berbasis masyarakat (commumty development) yang akhir-akhir ini ditawarkan. Paling tidak ada dua prinsip dalam konsep pembangunan berbasis masyarakat. Pertama, inisiatif kreatif masyarakat ialah sumber utama pembangunan. Kedua, kesejahteraan masyarakat ialah tujuan akhir pembangunan. Singkatnya community development ini memperjuangkan bagaimana agar proses pembangunan dapat melibatkan sepenuhnya sehingga hasilnya dapat sepenuhnya dinikmati masyarakat juga.

Perlu dipertegas lagi, Indonesia merupakan kawasan rawan bencana. Perbaikan (rehabilitasi) atau pembangunan kembali (rekonstruksi) rumah yang rusak serta pembangunan fasilitas publik pascabencana penting dan harus segera dilakukan. Selain desain dan struktur, perlu juga dikaji pula bahan-bahan bangunan dan teknologi yang memenuhi standar konstruksi tahan gempa, serta yang paling penting ialah pengembangan model pengelolaan pembangunan berbasis masyarakat yang sesuai dengan local wisdom.

Suwanto
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta

Paling tidak ada dua prinsip dalam konsep pembangunan berbasis masyarakat. Pertama, inisiatif kreatif masyarakat ialah sumber utama pembangunan. Kedua, kesejahteraan masyarakat ialah tujuan akhir pembangunan.

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Media Indonesia tanggal 12 Desember 2017.