14 November 2017

Suara Pembaca



DIKETIK 1,5 spasi maksimal satu folio, ditandatangani dan dilengkapifotokopi identitas diri. Isi seluruhnya tanggung jawab penulis dan tidak melayani permintaan identitas yang dirahasiakan. Redaksi berhak melakukan editing.
Kirimkan ke alamat: pembacasm@gmail.com
Konten Pornografi di WA

Aplikasi android membawa bencana via WhatsApp (WA). GIF sarat dengan konten pornografi secara langsung dapat dikonsumsi secara gratis.
WA merupakan aplikasi yang menjadi layanan messaging terbesar dunia dengan pengguna sekitar 1,2 miliar karena kemudahan dan bebas iklan. Namun sayang, dengan kemudahan aplikasi yang dapat diakses terjadi penyalahgunaan dengan menyebar konten berbau pornografi. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi negara darurat kerusakan moral.

WA hanyalah salah satu dari beragam aplikasi yang menunjukkan tidak adanya pengawasan dari pemerintah dalam mem-filter konten bernada negatif. Menkominfo hanya mengecam dengan mengajukan surat kepada pengelola WAagar mempertanggungjawabkan kasus ini sebagai pemilik platform.

Dapat kita bandingkan saat Menkominfo menutup Telegram dan memanggil pemilik aplikasi terkait radikalisme, tindakan pemerintah lebih cepat untuk memblokir aplikasi Telegram dengan alasan banyak konten radikalisme, seakan negeri ini darurat radikalisme. Jika kita
amati konten pornografi, pergaulan bebas itulah yang merusak moral bangsa.

Stigmatisasi pemerintah terhadap radikalisme vs pornografi bukan untuk menyelesaikan masalah tetapi lebih kepada "kepentingan" para penguasa. Seharusnya pemerintah melindungi masyarakat dari hal-hal yang merusak bangsa, bukan melindungi para penguasa demi kelanggengan kekuasaan.

Kharina Putri Sari Mahasiswi FEB Undip J1 Damar Terusan 269 Semarang
***
Lampu Merah J1 Gajah Mada Mohon perhatian untuk lampu merah di depan Lumpia X-press Jl. Gajah Mada (perempatan Jl Moch Suyudi dan Jl Melati Utara). Lampu pengatur lalu lintas tersebut tidak tampak dari jauh karena tertutup rerimbunan pohon. Perempatannya pun tidak tampak seperti perempatan pada umumnya (tidak lurus).

Hal ini membahayakan para pengguna jalan, terutama para pendatang yang belum hafal dengan kondisi jalan. Beberapa kali kami melihat ada mobil/motor yang mengerem mendadak, karena terlambat melihat lampu yang menyala merah (termasuk kami yang baru saja menjadi penduduk Semarang).

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Suara Merdeka tanggal 14 November 2017.