30 Juni 2013

Pendebetan Ilegal Kartu Kredit Standard Chartered



Berawal dari acara pernikahan anggota keluarga saya di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Desember 2011. Sebagai bentuk hadiah pernikahan, saya melakukan transaksi sebesar Rp 48 juta dengan kartu kredit Standard Chartered Bank dan sebesar Rp 5 juta. Pada 28 Desember 2011, saya dikejutkan dengan transaksi berikutnya di kartu kredit Standard Chartered Bank Nomor 4934 9810 8133 xxxx sebesar Rp 38.080.000 tanpa seizin pemegang kartu.

Sangat disayangkan bank sebesar Standard Chartered tidak melakukan konfirmasi untuk setiap transaksi yang nilainya cukup besar. Saya segera melapor ke call center Standard Chartered dan menghubungi Ibu Bertha E Siagian, Head of Customer Complain Standard Chartered melalui telepon. Dalam waktu beberapa bulan, pihak Standard Chartered telah mengkreditkan kembali tagihan sebesar Rp 38.080.000 itu.

Kemudian pada Maret 2013, saya menerima kembali surat dari pihak Standard Chartered yang isinya membebankan kembali tagihan sebesar Rp 30.080.000 karena pihak Standard Chartered tidak mendapatkan tanggapan dari bank pemroses (merchant) yang bersangkutan dan saya diminta menyelesaikan sendiri kasus ini.

Saya keberatan, kecewa, dan komplain keras kepada Standard Chartered yang sudah jelas mengetahui duduk permasalahan, tetapi berusaha cuci tangan atas masalah ini dengan melakukan pembebanan kembali kepada nasabah yang tidak melakukan transaksi. Posisi saya sebagai korban, yaitu nasabah yang dirugikan atas pendebetan ilegal.

Seharusnya menjadi kewajiban dari pihak bank penerbit kartu untuk melaporkan dan mengurus transaksi ilegal tersebut sampai kepada pihak berwajib jika tidak mendapatkan tanggapan yang serius dari pihak-pihak terkait. Saya menunggu solusi penyelesaian dari pihak Standard Chartered mengingat masalah ini sudah berlarut-larut sejak Desember 2011.

Lindyana Wonowidjaja
Jalan Pelangi Kuning II, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Surat pembaca diambil dari Kompas tanggal 30 Juni 2013.