29 Juni 2013

Penjelasan Pengelola Kebun Binatang Bandung



MEMBACA pemberitaan yang berjudul "Selamatkan Satwa Dilindungi!" di rubrik Beranda, subrubrik Bincang Radio PRFM, Sabtu, 22 Juni 2013, kami, pengurus Yayasan Margasatwa Tamansari Bandung perlu menjelaskan beberapa hal.

Kebun Binatang Bandung pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu) dan bahkan pada musim libur sekolah memang menjadi salah satu tujuan para siswa dan orangtua dalani mengisi hari liburnya untuk wisata dan menambah pendidikan, khususnya tentang tumbuhan dan satwa. Tentu dengan meningkatnya pengunjung, loket tiket masuk di mana pun akan antre. Petunjuk dan petugas siap mengatur, agar pembelian tiket bisa tertib, dan kesadaran pengunjung untuk mengantre kami nilai sudah cukup baik. Di saat libur sekolah, pengunjung Kebun Binatang Bandung meningkat sampai 50 persen dibandingkan dengan harihari biasa, dan tidak hanya warga Kota Bandung, tetapi juga di luar kota dan luar Jawa.

Tentang adanya sejumlah kandang satwa yang kotor oleh sampah yang berasal dari botol minuman dan kulit kacang, khususnya di kandang buaya, sebagaimana telah diinformasikan oleh wartawan PRFM di tulisan tersebut, petugas sudah berusaha melalui pengeras suara mengingatkan pengunjung agar tidak member! makan dan melempar botol minuman atau sampah. Namun, ketika petugas lengah, pengunjung yang umuninya remaja (sebagian kecil) melemparkan botol minuman atau makanan yang sebenarnya bukan makanan buaya.

Di gambar yang termuat di HU Pikiran Rakyat, 22 Juni 2013 adalah gambar yang pernah dimuat "PR" beberapa bulan lalu. Perlu kami jelaskan, di KB Bandung, ada tiga kandang buaya. Satu kandang yang memang berada di posisi agak bawah, sehingga orang akan mudah melempar apa saja ketika petugas lengah atau mereka tidak membaca peringatan. Untuk memberi makan satwa di KB Bandung, kami telah menggunakan standar sebagaimana UndangUndang No. 18 Tahun 2009 yang dikenal dengan istilah/fue/reedom (bebas dalam lima hal). Yaitu, bebas dari rasa lapar, haus dan malnutrisi; bebas dari stres dan rasa takut; bebas dari ketidaknyamanan fisik dan suhu udara; bebas dari rasa sakit dan cedera; bebas berperilaku normal. Sebagian masyarakat mungkin belum tahu bahwa buaya yang ditonton seperti buaya mati dan tidak bergerak, bahkan bisa dianggap "patung". Padahal, sifat buaya ketika sudah kenyang memang tidak aktif seperti binatang jenis lainnya. Pengelola pun memberi makan setiap buaya 46 ekor ayam/minggu, dan ketika menerima makanan, gerakan buaya sangat atraktif, dan pengunjung yang kebetulan melihat pun akan senang.

Di KB Bandung, kebetulan tidak ada simpanse. Mungkin yang dimaksud oleh wartawan "PR FM" adalah orangutan. Harimau Sumatra dan singa yang menurut mereka seperti kurus dan tak sehat pun kami jelaskan bahwa di KB Bandung ada dokter hewan yang rutin memeriksa semuanya.

KB Bandung yang sudah berumur 80 tahun, tentu mematuhi ketentuan UndangUndang No. 5 Tahun 1999, khususnya Pasal 22 Ayat i PP No. 7/1999. Kami pengurus dan pengelola, sama halnya dengan masyarakat, tidak menginginkan nasib satwanya mengalami hal yang terjadi di KBB Surabaya, karena adanya dualisme organisasi pengelola.

KB Bandung yang milik pribadi keluarga (bukan milik pemerintah), tentu akan menjaga dan memeliharanya sesuai dengan tujuan pendiriannya pada tahun 1933 yaitu sebagai lembaga konservasi tumbuhan dan satwa serta hiburan dan pendidikan bagi masyarakat.

Tentunya hal itu dapat terwujud dengan bantuan pengunjung, agar tertib dan tidak memberikan makanan serta memelihara lingkungan kandang juga lingkungan area KB Bandung yang luasnya sekitar 14 hektare. Atas perhatian dan masukannnya, kami mengucapkan terima kasih. Semoga KB Bandung akan tetap terjaga dan terpelihara dan berfungsi sesuai dengan tujuan.


Surat pembaca diambil dari Pikiran Rakyat tanggal 29 Juni 2013.