29 Juni 2013

Media Singapura Berlebihan



Pantauan pemberitaan media luar negeri, khususnya media Singapura, terkait musibah kabut asap di Riau menjadi perhatian bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY mengaku kecewa dengan pemberitaan yang seakan-akan menyudutkan pemerintah Indonesia. Bahkan SBY mengatakan pemberitaan itu dikhawatirkan akan berdampak pada image buruk Indonesia di mata dunia internasional.

Menurut saya, masalah bencana kabut asap sebenarnya bukan hanya masalah pemerintah pusat, melainkan pemerintah lokal yang harusnya bertanggung jawab untuk semua itu. Namun sangat disayangkan ketika media Singapura menganggap Indonesia sejak lama terus mencemari udara Singapura.

Hal itu saya kira sangat berlebihan. Logikanya bencana asap tersebut harus lebih dicerna kembali oleh Singapura, sebab masalah kebakaran hutan yang mengakibatkan terjadinya asap tersebut bukan dikarenakan ulah manusia itu sendiri, melainkan karena faktor cuaca panas yang pada akhirnya membakar rimbunan pohon kering.

Oleh sebab itulah kiranya media Singapura harus mencerna kejadian tersebut agar tidak dijadikan konsumsi media sebagai ajang bisnis untuk rating semata, melainkan kelayakan dan penelitian lebih lanjut harus dilihat lebih mendalam lagi.

Saya kira sebagai jurnalis handal sepertinya tidak serta merta menuding semua kejadian menjadi nilai jual yang fantastis, dalam arti skema penulisan harus lebih mendalam lagi dalam melihat kenyataan yang ada di tempat kejadian tersebut.

Bencana asap tersebut menjadi sebuah pelajaran bersama bagi kita, khususnya pemerintah lokal, untuk tetap menjaga kelestarian hutan, dan mengantisipasi kejadian serupa agar tidak terulang di masa yang akan datang.

Yuni Wahyuni Jl. Pelita No. 18 B Cengkareng, Jakarta Barat.

Surat pembaca diambil dari Bisnis Indonesia tanggal 29 Juni 2013.