28 Juni 2013

Debat Migas: Hanya Petani Penggarap



Sebagai pensiunan pekerja migas, saya sering mengikuti acara debat para pakar migas di televisi. Salah satu yang sempat sap ikuti adalah debat pada awal Februari di salah saw televisi swasta: Wamen ESDM, Susilo Siswoutomo, didampingi pejabat Pertamina, SKK-Migas, dan perusahaan minyak Total Indonesie sebagai narasumber. Sementara itu, di audiens terdapat pakar migas, pengusaha, wakil rakyat, wakil dari pemerintah daerah penghasil migas, dan mahasiswa.

Ketika seorang pengamat migas dengan berapi-api melontarkan "serangan" babwa migas kita sudah dikuasai pihak asing, dengan merendah, perwakilan dari Total Indonesie (Nurmal Jumiril) menjawab: "Kami ini ibaratnya hanya petani penggarap sawah, sedangkan basil padi tetap menjadi milik Pemerintah RI dan kami sebagai penggarap hanya menerima bagian kecil padi hasil panen sesuai dengan perjanjian."

Memang perusahaan migas boleh dianggap sebagai petani penggarap "sawah" kita, sedangkan Pemerintah RI adalah pemilik sawah sekaligus pengawas. Tempi semua biaya penggarapan sawah akan diganti oleh pemerintah (cost recovery).

Ungkapan hanya sebagai "petani penggarap" yang disampaikan wakil perusahaan migas asing itu jelas berbeda dari "petani penggarap" sawah bapak-ibu saya di desa kecil di Jawa Tengah. Da lam perjanjian bapak-ibu saya dengan petani penggarap tidak ada penggantian biaya penggarapan lahan dan pemanenan padi. Maka, selurub biaya penggarapan sawah ditanggung petani.

Pembagian basil padi pun sangat jelas dan disepakati di depan dengan tiga opsi: seperempat (petani penggarap), tiga perempat (pemilik sawa.h); sepertiga (petani), dua pertiga (pemilik sawah atau separo-separo). Opsi terakhir ini diberlakukan ketika niasa tanam padi menjelang kemarau karena kemungkinan gagal panen (puso) disebabkan kurangnya air yang cukup besar.

Untuk mendapatkan basil padi yang bagus dan menambah semangat petani penggarap, bapak-ibu saya selalu memberi "insentif' berupa bantuan pupuk urea. Ini juga tidak serta-merta diserahkan kepada petani. Artinya, petani bebas membeli pupuk, lain diperhitungkan di akhir panen. Pupuk tetap dibeli oleh bapak-ibu saya, lalu diantar ke sawah untuk ditabur bersama. Thu tidakpercaya 100% kepada petani penggarap. Katanya, bisa saja sebagian urea itu disisihkan clan dibawa pulang untuk memupuk kebun bayam sang petani.

Dengan model kerja sama seperti ini, bapak-ibu saya tidak pernah dipusingkan dengan cost recovery, yang konon jumlahnya terus meningkat. Petani penggarap pun akan berusaha seefi.sien mungkin, misalnya tidak membeli benih clan mendatangkan tukang cangkul dari luar negeri. Dia juga menggunakan pupuk secukupnya.

Semoga para pengawas "sawah" kita bisa bekerja profesional, sehingga kita bisa mendapatkan "padi" lebih banvakuntuk kesejahteraan segenap warga negara.

SUGENG HARTONO
Bona Indah Blok A-7
Lebak Bulus
Jakarta Selatan

Surat pembaca diambil dari Gatra tanggal 28 Juni 2013.