27 Juni 2013

Tingkatkan Keamanan Di Bandara Husein



SAYA mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Suami saya berkewarganegaraan Malaysia yang sering pulang pergi Indonesia Malaysia. Suami saya sering mengalami kehilangan barang pada saat tiba di Bandara Husein Sastranegara.

Pada saat mengantre bagasi, harus menunggu sekitar 30 menit. Padahal, saat turun dari pesawat, suami saya melihat bagasi sudah dibawa trolley untuk masuk ke bandara.

Setelah mengurus imigrasi yang cukup memakan waktu, ternyata bagasi yang seharusnya sudah siap masih belum keluar. Sekitar 30 menit menunggu, bagasi baru datang.

Sesampainya di rumah dan mengecek barang, ternyata ada beberapa barang yang hilang dan keadaan dalam tas sudah berantakan, seperti habis diobrak abrik. Hal ini pun kerap dirasakan oleh kakak ipar dan mertua saya yang setiap akhir tahun selalu mengunjungi Indonesia.

Abang saya yang baru saja datang dari Malaysia pada 25 Juni 2013, sekitar pukul 20.oo WIB, sudah kehilangan dua laptop dan handphone. Saat meminta penjelasan di bandara, pihak bandara tidak bisa bertanggung jawab. Padahal, pada saat berangkat barang sudah tertutup rapi. Anehnya, hal ini kerap terjadi di Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Apabila keluarga saya naik pesawat yang ke Jakarta dengan bawaan barang yang sama, hal ini tidak pernah terjadi. Namun, sanak saudara saya yang ke Indonesia lewat Bandara Husein Sastranegara Bandung kerap mengalami kejadian seperti ini. Sebenarnya, ada apa dengan sistem keamanan bandara di Bandung?

Seharusnya pihak yang berwajib lebih menegaskan keamanan Bandara Husein agar lebih jujur dan teliti dalam mengurus barang. Hal ini sangat merugikan penumpang dan menjatuhkan citra negara di mata wisatawan asing dan lokal. Seharusnya hal seperti ini ditindaklanjuti dan yang bersalah harus segera dihukum karena ini adalah hal yang memalukan dan merugikan negara. Sebaiknya keamanan dan hukuman bagi para kaiyawan bandara lebih diketatkan dan didisiplinkan. Mohon kejujuran dan tanggung jawab lebih diutamakan.


Surat pembaca diambil dari Pikiran Rakyat tanggal 27 Juni 2013.