27 Juni 2013

Ongkos Transportasi Rugikan Penumpang



PEMBERITAAN media massa hanya mengungkap soal demonstrasi yang menolak kenaikan harga BBM dan pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang dibayarkan mulai Sabtu (22/6). Padahal, masih banyak persoalan yang perlu diangkat menyangkut kepentingan publik atas Kebijakan menaikan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah pada 22 Juni 2013.

Lihatlah, trayek bus antar kota (Jakarta-Tangerang) Patas 34, Blok M-Palawad Poris menaikkan ongkos dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.000. Padahal, satu hari sanggup mengangkut 800 penumpang (minimal) sebanyak delapan rit (bolak-balik).

Asumsikan hanya memakai 200 liter BBM solar yang semula Rp 4.500 sekarang menjadi Rp 5.500, maka kenaikan yang dibanyar hanyalah Rp 300 ribu saja (200 liter x Rp 1.500). Sedangkan mereka menangguk uang penumpang sebanyak 800 x 1.500= Rp 1,2 juta. Siapa yang diuntungkan? Apakah sopir dan kenek menikmati semua itu, atau perusahaan Mayasari Bhakti?

Penentuan kenaikan ongkos bus dan angkot saat ini menjadi liar dan berpotensi merugikan penumpang dan masyarakat. Apakah pemerintah mampu mengontrol hal semacam ini?

Hans Suta Widhya
FPRM Jaktim 006/JT/FRRM/2014

Surat pembaca diambil dari Rakyat Merdeka tanggal 27 Juni 2013.