25 Juni 2013

Pentingnya Ketahanan Energi Nasional



Kepada Yth,

Tahun 2013, pemerintah kembali dipusingkan dengan permasalahan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Belakangan ini wacana mengenai subsidi BBM memang tengah hangat diperbincangkan berbagai khalayak.

Dalam APBN 2013, subsidi BBM memang dianggarkan cukup besar, yaitu 46 juta kiloliter atau setara dengan Rp 193,8 triliun.

Namun, masih banyaknya kelompok masyarakat yang tidak semestinya mengonsumsi BBM bersubsidi mengakibatkan kuota BBM bersubsidi 2013 berpotensi meningkat.

Apabila hal itu teijadi tentu akan berdampak pula pada peningkatan beban subsidi di APBN 2013. Konsekuensi lebih lanjut anggaran subsidi BBM bisa saja mencapai Rp 200 triliun.

Tujuan menaikkan harga BBM bukan hanya soal ketahanan fiskal, tetapi tidak lain untuk menuju ketahanan eneigi nasional. Cadangan energi dalam negeri begitu mengkhawatirkan. Jika sudah begitu, secara otomatis ketahanan energi Indonesia sangat rendah.

Bangsa Indonesia memiliki sumber daya energi yang melimpah Namun hal ini tidak menjamin ketersediaan energi tersebut bisa dihikmati generasi selanjutnya, jika tidak dikelola dengan baik.

Apa lagi 85 persen energi di Indonesia dikelola oleh pihak asing, selebihnya 25 persen dikelola oleh Pertamina. Ketahanan energi, khususnya BBM merupakan salah satu faktor krusial dalam ketahanan nasional sehingga wajar jika pemerintah memberikan sinyal bahwa stok BBM Indonesia yang rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama 20 hari saja rawan ketahanan energi.

Angka tersebut jaiih di bawah stok minyak Singapura yang mencapai 120 hari dan Jepang 107 hari. Padahal kita tahu kedua negara maju itu tidak memiliki deposit minyak bumi.

Rendahnya stok BBM ini jika tidak diantisipasi dan dicarikan solusinya dapat menimbulkan pelemahan ketahanan energi dan ketahanan nasional.

Untuk negara maju ketahanan energi dapat terjamin melalui diversifikasi energi, trading, dan investasi di wilayah penghasil energi. Sementara untuk negara berkembang ketahanan energi didefinisikan sebagai bagaimana cara mencari penyelesaian untuk menyikapi perubahan energi yang dapat berdampak pada perekonomian negara.

Antisipasi lebih awal haruslah diingatkan. Sebagai negara yang memiliki populasi penduduk dan luas wilayah dari Sabang hingga Merauke, ketahanan energi mutlak diperlukan.

Untuk menjaga ketahanan energi, pemerintah mesti mengelola pasokan dan permintaan energi dalam negeri. Kita saat ini sudah bukan negara pengekspor minyak, melainkan sudah menjadi negara pengimpor.

Yanto Wandi
Jl Persahabatan Timur
No 5 RT 009 RW 01
Rawamangun, Jakarta Timur

Surat pembaca diambil dari Sinar Harapan tanggal 25 Juni 2013.