25 Juni 2013

Memilih Tukang Bangunan Perlu Hati-hati



Awal Maret kami berjumpa dengan Pak Dasirun, pemilik jasa pembuatan taman di sekitar UI ke arah Lenteng Agung. Dari Pak Dasirun dikenalkan saudara Trisno yang menurut beliau saudaranya untuk menerima pekerjaan dari kami untuk renovasi beberapa bagian rumah kami. Awal April rumah kami direnovasi di bagian pintu dapur, gazebo, dan lantai atas rumah.

Kami memberikan bekas pintu kepada tukang pintu yang tampaknya subkontrak dari Trisno. Pintu telah diperbaiki dan selesai akhir April. Semua kerjaan selesai akhir Mei. Sampai saat ini, tinggal memperbaiki gazebo. Rupanya seluruh jenis pekerjaannya disubkontrakkan lagi ke kelompok lain oleh Trisno. Bagi saya tidak mengapa, asal selesai dan rapi. Kekurangannya adalah keterlambatan dan tidak koordinasi. Ini pun saya maklumi. Saya komplain, tapi saya maafkan.

Lebih parah, kunci pintu dapur hanya tiga buah yang saya terima. Kami alpa menanyakannya karena percaya 100 persen tidak ada pikiran negatif. Ternyata, kami mengalami kejadian buruk, 21 Juni, Jumat lalu, pintu dapur tersebut dibobol dan harta benda kami ikut raib yang kami simpan di kamar kami. Kamar kami acak-acak an. Saat itu, kami sekeluarga sedang berlibur.

Saya cek, kunci pintu kami hanya tiga buah, artinya satu asli dua duplikat (biasa dari toko empat buah). Dengan demikian, yang satu asumsi kami berada di tangan tukang subkontrak dari Pak Trisno tersebut. Disambung keterangan istri bahwa di bekas pintu yang diserahkan tergelantung kunci gembok pagar rumah yang hilang setelah kejadian tersebut. Sama sekali tidak dirusak. Tetangga kami melihat sebelum kejadian ada dua orang dengan satu kendaraan yang biasa mereka lihat sewaktu kami renovasi hal-hal tadi.

Irfan Ridwan Maksum
Perumahan Permata Depok, Berlian d2/15, Pondok Jaya

Surat pembaca diambil dari Republika tanggal 25 Juni 2013.