25 Juni 2013

Nilai Tukar Rupiah Kok Anjlok?



Saya bukan pengamat ekonomi. Saya hanya orang awam di bidang ekonomi yang sedikit memperhatikan perkembangan yang terjadi di seputar ekonomi bangsa saat pada nilai tukar mata uang kita, rupiah, sungguh mengenaskan, terjun ke Rp 10 ribu per dolar AS. Bahkan sudah menyentuh angka di atas itu.

Apakah perkembangan seperti ini dianggap menggembirakan ataukah sebaliknya, dan apakah masalah ini kiranya ikut memperkuat redenomiasi mata uang kita sebagaimana sudah direncanakan Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu?

Kisaran rupiah yang sudah menyentuh batas psikologis Rp 10.000 per dolar AS ini sungguh suatu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahwa rupiah sangat mungkin bisa kembali ke titik itu karena sepanjang tahun lalu rupiah memerperlihatkan keperkasaan, mendekati Rp 9 ribu per dolar AS. Namun, entah apa yang terjadi dengan mata uang kita ini hingga bisa terjun bebas ke level seperti sekarang. Padahal, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2013 saja sudah mengasumsikan rupiah di kisaran Rp 9.300 per dolar AS.

Asumsi makro ekonomi itu tentu dibuat berdasarkan berbagai perhitungan. Termasuk, faktor kondisi ekonomi global yang selalu dikambinghitamkan sebagai penyebab melemahnya nilai tukar.

Sepertinya dari tahun ke tahun, setiap kali pemerintah membuat asumsi makro terkait rupiah, tak ada yang tercapai. Artinya, ramalan terkait rupiah untuk jangka panjang tak pernah akurat. Apakah salah menghitung, atau rupiahnya justru yang selalu bergerak anomali? Memang, pergerakan rupiah ini sepertinya agak mengherankan. Karena, di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melejit, rupiah di sisi yang sama malah terjun bebas. "Gaya" itu terus terjadi.

Demikian halnya jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di kawasan regional ASEAN. Jika mereka menguat, rupiah tak ikut menguat. Namun, jika mereka melemah, rupiah sudah pasti adalah yang mengalami pelemahan terdalam. Entah apa yang membuat rupiah terkoreksi terus. Padahal, jika mengingat saat ini, kondisi ekonomi global tidak sedang hancur-hancuran.

Kita patut menanyakan kepada pemerintah terhadap gerak-gerik mata uang kita ini karena kurang begitu serius diperhatikan, atau apakah bisa dikatakan lepas tangan? Pasalnya, hanya BI saja yang "ngos-ngosan" membanjiri pasar dengan dolar, agar rupiah bisa tenang bertengger pada kisaran yang sesuai perkembangan ekonomi, yakni menguat kalau dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi dibanding negara tetangga.

Namun, sampai sejauh mana BI bisa melakukan ini, tentu ada batasnya. Kalau cadangan devisa sampai habis, bisa jadi negara apa kita ini? Pada saat BI kehabisan amunisi, rupiah pun akan bergerak liar, dan kita tinggal menunggu dan pasrah sampai batas mana rupiah porak-poranda.

Satu hal yang harus diingat, nilai tukar rupiah dan kestabilannya sudah barang tentu akan mempengaruhi banyak hal, termasuk, anggaran negara. ***

Darman A Jatinangor, Sumedang Jawa Barat

Surat pembaca diambil dari Suara Karya tanggal 25 Juni 2013.