25 Juni 2013

Para Korban Tercinta Lhi



BOCAH perempuan itu seperti tidak berhasil menemukan kata di dalam kepalanya untuk mengungkapkan apa yang dia pikir dan rasa saat itu. Dia hanya diam dalam gendongan ibunya. Sedangkan sang kakak, anak lelaki sekitar kelas dua SD, hanya bisa menangis. Perpaduan antara sedih, rindu mendalam, bingung, serta putus asa. Ayah yang dicintainya lagi-lagi sibuk bekerja dan belum bisa pulang. Sang ayah, yang berkali-kali berdalih rapat, berjalan menjauh. Baju napi berwarna oranye dia kenakan di pundaknya.

Ingatan tentang kunjungan saya ke Lapas Cipinang beberapa tahun lalu itu berkelebat lagi. Tapi, dengan sosok yang berbeda: Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan presiden PKS, yang kemarin memulai sidang perdananya dalam kasus suap kuota impor daging sapi. Andai dakwaan jaksa KPK terbukti benar, LHI yang juga dikenai pasal pencucian uang tersebut mungkin akan mengalami situasi serupa dengan narapidana pencucian uang yang saya lukiskan itu.

Sembari tetap menjunjung praduga tidak bersalah, kegeraman luar biasa berkobar menyaksikan adegan LHI di pengadilan sampai tadi malam. Satu sisi, enggan memusingkan kepala memikirkan orang yang telah mengkhianati para pendukung akar rumputnya (juga rakyat). Lain sisi, harapan agar kerja keras KPK selama ini berhilir pada dihukumnya si terdakwa seberat-beratnya.

Bagaimana kondisi keluarga LHI menjadi pusat kerisauan utama. Mereka-reka suasana batin tiga istri dan lima belas anak LHI tidak begitu mudah. Sebab, riset-riset selama ini lebih berkutat pada reaksi keluarga korban kejahatan, bukan pelaku.

Namun sejenak, anggaplah LHI -sebagaimana diperagakan para petinggi PKS- berkilah di hadapan keluarganya bahwa dirinya hanya korban persekongkolan jahat. Dengan konteks seperti itu, hampir bisa dipastikan ada perasaan tidak terima, bahkan amarah. Gelora itu mendorong semangat kepada LHI agar berjuang mati-matian demi terkuaknya kebenaran dan keadilan sejati.

Lain ceritanya bila, seiring mengemukanya fakta-fakta dalam sidang, kian kentara peran nyata LHI dalam kejahatan korupsi sebagaimana yang dipaparkan KPK. Tersadar, bahkan tersudut, bahwa kepala keluarga mereka adalah pelaku kejahatan niscaya memunculkan keguncangan dahsyat.

Terperanjat, sosok yang selama ini diteladani karena religiusitasnya ternyata mempunyai watak dan kelakuan yang berlawanan dengan yang dihayati keluarga. Malu, status sebagai keluarga dari figur yang hingga beberapa bulan lalu masih menyandang posisi bermartabat kini tiba-tiba ikut terjerembap dalam nestapa. Kecewa, ajaran-ajaran budi pekerti ternyata hanya dikenakan kepada anak-istri dan tidak berlaku bagi diri si kepala keluarga sendiri. Juga, bingung, karena pasal pencucian uang bisa sekonyong-konyong menjerat mereka terlibat dalam kejahatan yang dilakukan suami maupun ayah mereka.

Ditambah, kemungkinan stigmatisasi oleh masyarakat. Kendati sah-sah saja, menjadi bagian dari sebuah keluarga poligami berpeluang menambah sinis cibiran khalayak luas.

Baik konteks pertama maupun konteks kedua, empati mendorong saya untuk memandang keluarga, khususnya anak-anak, LHI sebagai korban kelakuan LHI sendiri. Semakin kurang menyenangkan karena kasak-kusuk publik selama ini mengenai kehidupan perkawinan LHI justru ''dikonfirmasi'' tidak dalam sidang perdata yang lazim mengangkat isu-isu rumah tangga, melainkan dalam perkara pidana tentang kerakusan manusia.

Yang terkena getah ulah LHI memang tidak sedikit. Tidak terkecuali partai yang pernah dipimpinnya. Tapi, korban paling rapuh, paling tercederai, dan paling tidak mampu mengelak adalah keluarga LHI.

Penalarannya, sebagai orang nomor satu di partai, kecil kemungkinan tidak ada uang kotor yang tak mengalir ke partai. Demikian pula, sebagai kepala rumah tangga, nafkah untuk keluarga dari sumber yang keruh tidak tertolak. PKS bisa saja dalam tempo singkat langsung mengubah respons dari yang semula melindungi mantan presidennya dengan berbagai dalih hingga kemudian menjaga jarak dengan menyebut aksi LHI sebagai polah individual. Namun, taktik penghindaran semacam itu tentu tidak mungkin ditiru anak-anak dan istri-istri LHI. LHI dan PKS terikat sebatas dalam relasi kepartaian, sedangkan LHI dan keluarganya adalah pertalian darah.

Pertalian orang tua dan anak itu pula yang sangat berpeluang ''mewariskan'' kelakuan jahat. Begitu kesimpulan penelitian David Farrington selama 35 tahun. Dia mencermati perkembangan anak-anak dari ratusan orang tua yang dikenai sanksi atas aksi kriminal mereka. Temuannya, terlebih ketika kejahatan dilakukan saat anak-anak pelaku masih belia, anak-anak tersebut sangat berpotensi pula menjadi pelaku antisosial lainnya kelak. Sebab, ketidakkonsistenan antara pendisiplinan dan perilaku menyimpang justru terbiarkan di dalam keluarga. Semoga pewarisan negatif like father like son itu tidak terjadi.

Bila yang berakal sehat saja tetap bisa berempati kepada keluarga LHI, semestinya LHI bisa lebih-lebih lagi. Langkah awal untuk itu sederhana saja: berhenti tersenyum di ruang sidang. Tunjukkan penyesalan!

*) Anggota Asosiasi Psikologi Islami, akademisi psikologi forensik (r_amriel@yahoo.com)

Surat pembaca diambil dari Jawa Pos tanggal 25 Juni 2013.