24 Juni 2013

Praktik Curang Dan Penipuan Roti Boy



Redaksi Yth,

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengirimkan surat pembaca mengenai Roti Boy. Adapun kronologisnya sebagai berikut. Jumat (21/6) saya jalan-jalan ke Margo City Depok bersama istri dan empat anak perempuan saya.

Waktu melewati gerai Roti Boy, anak saya yang pertama minta dibelikan Roti Boy, disusul anak ke-2 dan ke-3, waktu itu sekitar pukul 15.00 WIB.

Namun saya tahu anak-anak saya kalau makan Roti Boy selalu tidak habis. Maka dengan uang Rp 50.000 saya beli dua buah, karena saya baru ambil di ATM, dan saat itu uang terkecil saya Rp 50.000.

Namun, karyawan yang kelihatannya masih magang bilang tidak ada kembalian, dengan nada biasa tanpa permintaan maaf. Lalu saya tunggu di depan Roti Boy, siapa tahu nanti ada kembalian.

Kemudian ada pembeli lain yang membeli dua roti dengari uang Rp 50.000. Hal sama terjadi, sang kasir mengatakan tidak ada kembalian. Si pembeli pun bertanya kalau beli tiga ada kembalian atau tidak, kasir menjawab tidak.

Saat itulah saya melihat dari jauh di lad kasir cukup banyak lembaran uang Rp 20.000 dan Rp 5.000. Di belakang pembeli itu ada anak remaja membeli satu Roti Boy dengan uang Rp 20.000, kembali dibilang tidak ada kembalian.

Lalu saya bertanya, kembali apa ada kembalian atau tidak lalu karyawan Roti Boy yang bernama Siti langsung bilang tidak ada kembalian. Dengan nada jengkel saya masuk dan membuka laci.

Karyawan tersebut berkata tak ada kembalian dan mempersilakan saya melaporkan ke manajemen Roti Boy. Saya pun tahu Roti Boy melakukan praktik curang dan penipuan agar konsumen membeli minimal tiga Roti Boy untuk uang Rp 50.000 dan dua buah untuk uang Rp 20.000.

Harusnya mereka tidak melakukan kecurangan dan penipuan seperti itu untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Roti Boy malah akan kehilangan banyak konsumen karena mengecewakan pembeli.

Akan lebih baik ditulis di depan toko, kalau pembelian di bawah tiga buah harap dengan uang pas. Praktik curang Roti Boy ini cukup mengagetkan saya, karena baru menemui hal seperti ini di sebuah franchise terkemuka.

Manajemen Roti Boy seharusnya melakukan strategi yang justru memuaskan pembeli di tengah persaingan bisnis roti yang makin tajam.

Arif Pltoyo
Grand Depok City
Kloster Azalea Blok W11/1

Surat pembaca diambil dari Sinar Harapan tanggal 24 Juni 2013.