21 Juni 2013

Iklan Bbm Asal-asalan



Akhir-akhir ini berbagai kementerian dan instansi pemerintah berlomba-lomba mengeluarkan iklan soal rasionalisasi rencana kenaikan harga bahan bakar minyak, yang akan segera diumumkan oleh pemerintah. Satu di antara institusi tersebut adalah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), yang memuat iklan di Koran Tempo edisi Rabu, 19 Juni 2013, halaman A5.

Dalam iklan tersebut disebutkan pernyataan Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana tentang alasan mengurangi subsidi BBM. Sayang, dalam penyajiannya, iklan itu terlalu rumit dan gagal memberi pemahaman kepada masyarakat.

Misalnya teks yang ditulis di alinea ketiga baris kedelapan, yang berbunyi, Data 2011 menunjukkan 56,2 persen subsidi BBM dinikmati 20 persen orang terkaya; 20 persen dikonsumsi kedua terkaya, dan 11,3 persen dikonsumsi 20 persen kelas menengah; 7,7 persen dikonsumsi 20 persen kedua termiskin (atau rentan miskin), dan sisanya sebesar 5,1 persen dikonsumsi 20 persen termiskin. Sehingga secara total kelompok penduduk kategori miskin dan rentan miskin hanya mengkonsumsi 12,8 persen dari total subsidi BBM.

Kalimat di atas gagal memberi pemahaman tentang jumlah persentase pemakaian subsidi BBM oleh masing-masing kelompok kategori. Bila dihitung secara cermat, tidak ditemukan penjumlahan sebesar 100 persen.

Padahal, bila menggunakan penjumlahan persentase, semestinya pada akhir perhitungan ditemukan angka 100 persen.

Syaroni
Jalan Pondok Kelapa, Duren Sawit
Jakarta Timur

Surat pembaca diambil dari Koran Tempo tanggal 21 Juni 2013.