20 Juni 2013

Jaga Terus Stabilisasi Rupiah



Nilai tukar rupiah sedang terpuruk sepekan terakhir ini. Alasan psikologis yang digunakan untuk menjelaskan melemahnya nilai rupiah mulai dari bursa Wall Street Amerika yang anjlok, jatuh tempo utang swasta sehingga banyak yang membutuhkan dolar sampai dengan rencana kenaikan harga BBM.

Sempat, Selasa lalu, rupiah menembus level 10 ribu per dolar AS. Permintaan dolar saat ini sedang naik, karena investor asing menarik dananya dari Indonesia. Kondisi ini bisa dilihat dengan menurunnya indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Segala usaha dilakukan oleh BI untuk mestabilkan rupiah dengan menaikkan suku bunga fasilitas simpanan BI sampai dengan menggelontorkan dana yang dibutuhkan mengikuti instruksi dari Presiden.

Langkah BI ini patut mendapat dukungan, pasalnya untuk menstabilkan rupiah, harus mendapat dukungan dari pemerintah lewat kebijakan fiskal.

Maka dari itu, untuk segera menstabilkan gonjang-ganjing rupiah di pasar valas, pemerintah harus cepat dan tegas dalam menetapkan kenaikan harga BBM baru, karena kebijakan tersebut ibarat pisau bermata dua, di satu sisi kebijakan tersebut menekan dolar terhadap rupiah, di sisi lain membuat kenaikan inflasi terutama kebutuhan pokok, transportasi.

Pemerintah harus fokus dalam mengatasi inflasi jika harga bensin bersubsidi dinaikkan, dengan kebijakan tersebut akan dapat meredam sentimen negatif pasar yang terus melemahkan rupiah.

Julia Gisel
Jl Pancoran Timur Raya,
Perdatam, No 13 Jakarta Selatan

Surat pembaca diambil dari Suara Pembaruan tanggal 20 Juni 2013.