19 Juni 2013

Wabah Perilaku Berkendara Melawan Arus



Perilaku berkendara melawan arus berkembang dan meluas layaknya wabah penyakit. Dimulai oleh satu-dua pengendara motor di jalan-jalan permukiman, kini hal itu dilakukan oleh banyak pengendara di banyak tempat di Ibu Kota.

Aparat kepolisian seolah tak hirau sehingga penindakan dan operasi penertiban pun hanya dilakukan secara sporadis dan musiman. Perilaku yang semakin gawat dan meresahkan ini mudah ditemukan di mana-mana. Bukan hanya pengendara motor, pengendara kendaraan roda empat pun sudah tertular perilaku ini.

Contoh jelas dapat dilihat di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Setiap sore, berbagai kendaraan mulai dari sepeda motor hingga bus kota bersama-sama melawan arus untuk memotong jalan. Tak ada teguran, apalagi penindakan.

Mestinya para pelawan arus ini ditindak tegas. Bahkan, kalau perlu, dicabut izin mengemudinya karena dengan sengaja mengabaikan dan melanggar hukum, membahayakan orang lain, dan melecehkan wibawa aparat kepolisian. Mereka menjadikan Jakarta seolah kota tanpa aturan, kesantunan, dan adab.

Sudah terbukti bahwa operasi lalu lintas yang digelar kepolisian tak bisa menyelesaikan masalah ini. Yang diperlukan adalah penanggulangan sistemis melalui koordinasi menyeluruh di kepolisian dan dinas terkait. Semua harus dilakukan konsisten dan berkesinambungan. Saya yakin yang dibutuhkan cukup kemauan dan kesungguhan dari para pemangku kepentingan.

Irawan E Prasetyo Pondok cina, Depok

Surat pembaca diambil dari Kompas tanggal 19 Juni 2013.