18 Juni 2013

Dukungan Untuk Polwan Berjilbab (i)



Polisi wanita (polwan) merupakan orang yang bertugas untuk menga yomi masyarakat dan menjaga ketertiban lingkungan. Polwan dalam kesehariannya senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat. Ia bertugas mengamankan lingkungan, mengarahkan, mengayomi, serta melindungi masyarakat. Perannya sangat terasa di tengah-tengah masyarakat. Tapi, belakangan beredar isu tentang profesi yang satu ini.

Beberapa waktu lalu, dikabarkan bahwa polwan tidak diperbolehkan menggunakan jilbab. Isu ini berbedar cepat dan mendapat beberapa tanggapan. Seperti, ketua Komnas HAM Siti Noor Laila dalam www.republika.co.id menanggapi bahwa pelarangan penggunaan jilbab bagi polwan Muslim bertentangan dengan HAM. Lantaran, setiap orang berhak menggunakan hal-hal yang berkaitan dengan agamanya masing-masing.

Kabag Penum Div Humas Polri Kombes Pol Agus Riyanto angkat bicara mengenai isu ini. Agus menjelaskan aturan tentang seragam sudah termuat dalam surat Kapolri nomor Pol Skep/ 702/ IX / 2005 yang mengatur masalah seragam dinas. Peraturan tersebut, termasuk diperuntukkannya untuk teman-teman polisi yang bertugas di Aceh. Ia menerangkan, polwan di Aceh diperbolehkan memakai jilbab karena daerah tersebut memiliki aturan tersendiri

Menanggapi isu ini, seorang polwan tidak perlu risau, bahkan takut. Tetaplah menjalankan amanah yang diberikan dengan tidak meninggalkan amanah Sang Khaliq. Jika polwan di Aceh bisa tetap menjalankan kewajibannya kepada Sang Khaliq, mengapa polwan di daerah lain tidak bisa?

Annida Khoirul Ummah RT 003/002 Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang

Surat pembaca diambil dari Republika tanggal 18 Juni 2013.