18 Juni 2013

Armada Bekas Jerman Timur



Neta Saputra Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch, pemerhati persenjataan TNI dan Polri, dalam artikel Polemik Pengadaan Persenjataan Militer di Kompas (7/2/2012) antara lain menulis, ... kapal-kapal perang eks Jerman Timur itu telah menjadi besi tua....

Armada bekas itu dibeli pemerintahan Soeharto pada 1993. Total terdapat 39 kapal, terdiri dari 16 korvet antikapal selam kelas Parchim, 14 kapal pendarat/LST kelas Frosch, dan 9 kapal penyapu ranjau.

Beberapa hari sebelum artikel itu muncul, sejumlah media mengutip keterangan Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Barat Letkol Laut (KH) Agus Cahyono tentang kunjungan muhibah KRI Pati Unus-384 ke India mengikuti MILAN 2012 di Port Blair, India. MILAN adalah ajang pertemuan dua tahunan negara-negara pantai di Laut India. KSAL India Admiral Nirmal Verma sempat meninjau KRI Pati Unus-384 yang dikomandani Letkol Laut (P) Eka Prabawa.

KRI Pati Unus-384 adalah salah satu dari 16 korvet Parchim eks Jerman Timur. Seluruh 39 kapal bekas yang dibeli telah dirombak total. Korvet di-repowering (diganti dengan mesin-mesin baru). KRI Hasan Basry-382, misalnya, yang dikomandani Letkol Laut (P) Agus Suhartono, kini Panglima TNI, juga mendapat mesin baru sebelum ke Surabaya, 1996.

September 2002, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh menjelaskan upaya repowering kapal-kapal itu. Enam korvet dan 4 LST diganti mesinnya (2002). Enam korvet lagi dalam proses penggantian mesin sehingga pada Januari 2003 sudah 12 yang beroperasi. Pada 2002, 4 korvet dan 5 LST dianggarkan untuk perbaikan tahap berikutnya. Pada 2004, lima korvet lagi bisa beroperasi (Kompas, 19/9/ 2002).

Juli 2005 dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, KSAL Laksamana Slamet Soebijanto menegaskan upaya repowering kapal-kapal bekas itu. Setelah satu tahun lebih, saya tidak melihat ada pendapat/artikel lain yang meluruskan. Saya khawatir, anggapan armada bekas eks Jerman Timur telah menjadi besi tua menjadi kebenaran.

WIRASMO Jalan Pakis VIII, Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi, Jawa Barat

Surat pembaca diambil dari Kompas tanggal 18 Juni 2013.