18 Juni 2013

Anehnya Demo Mahasiswa



Sekarang Ini Demo terkait dengan penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi diteriakkan di mana-mana. Mahasiswa, yang katanya terdidik dan dari kaum akademikus, ternyata menyikapi kenaikan harga BBM dengan cara-cara yang tidak elegan. Demo tolak-menolak dan dukung-mendukung sebenarnya tidak ada masalah.

Tapi jika demo berujung tindakan anarkistis, perusakan fasilitas umum, apakah itu demo dari masyarakat terdidik? Tentu jawabnya tidak. Saya ingin mengkritik demonstrasi yang kerap dilakukan oleh mahasiswa di Makassar, yang selalu berujung pada sikap yang anarkistis, sikap yang tidak terpuji.

Ke mana mahasiswa nanti akan dibawa? Berkaitan dengan kenaikan harga BBM, boleh saja demonstrasi. Mahasiswa Indonesia terkenal dengan sikap kritisnya. Namun, jika kritis tapi tidak mengindahkan orang lain, mereka bukan mahasiswa yang terpelajar, mereka sama dengan preman pasar. Mahasiswa sering mengatakan bahwa tuntutannya atau demonya adalah bentuk dari aspirasi rakyat, tapi nyatanya tidak didukung juga tuh oleh rakyat. Buktinya, di Makassar, ketika demo memblokade jalan terkait dengan masalah BBM, masyarakat malah menentang demo tersebut.

Warga masyarakat justru merasa tidak nyaman dengan adanya demo-demo tersebut karena mengganggu lalu lintas. Demo justru menambah kesengsaraan rakyat, bukan menambah kebahagiaan rakyat yang ingin beraktivitas. Dari fenomena tersebut, saya bisa ambil kesimpulan bahwa demo yang terjadi sekarang ini sudah tidak murni aspirasi dari rakyat. Demo sekarang lebih pada aspirasi elite. Coba saja kita lihat, BBM bersubsidi penggunanya justru bukan rakyat biasa, melainkan orang yang mampu. Untuk itu, saya imbau mahasiswa agar bisa me-review kembali demo-demo yang dilakukannya, murni atau tidak demonya? Murni membawa aspirasi rakyat kecil atau aspirasi orang-orang mampu yang tidak layak disubsidi.

Nathalia Kompleks Maharaja Kota Depok

Surat pembaca diambil dari Koran Tempo tanggal 18 Juni 2013.