17 Juni 2013

Air Susu Ibu



Jumlah wanita bekerja meningkat dari tahun ke tahun karena dorongan untuk menambah penghasilan keluarga. Untuk mencegah terjadinya permasalahan yang bisa ditimbulkan oleh seorang ibu dalam menjalankan kodratnya untuk menyusui bayinya, pemerintah sebenarnya telah berusaha untuk mewadahinya dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Di mana pekerja atau buruh perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya, jika hal itu harus dilakukan selama waktu bekerja. Karena itu, terkait dengan peraturan tersebut, pemilik perusahaan berkewajiban memenuhi hak menyusui bagi karyawan perempuannya dengan menyediakan waktu dan tempat penitipan anak ataupun ruang ASI.

Namun, pada kenyataannya, banyak ditemukan para ibu enggan memberikan ASI eksklusif (ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan lain sampai 6 bulan) dan dilanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun atau lebih karena kurangnya dukungan dari lingkungan, baik keluarga, masyarakat tempat bekerja, maupun beraktivitas.

Dengan meningkatnya pendidikan dan informasi yang benar tentang ASI sekarang, banyak ibu sudah paham akan keuntungan dan keunggulan ASI dibanding formula pengganti ASI. Guna menjamin terpenuhinya hak bayi dan ibu tentang ASI, seharusnya di tempat kerja, khususnya, dan sarana umum lainnya tersedia ruang ASI.

Hal itu akan sangat membantu para ibu bekerja untuk tetap dapat memberikan ASI buat bayinya. Sejauh ini belum semua kantor pemerintah atau BUMN di Jakarta yang memiliki tempat penitipan anak atau ruang ASI. Sedangkan untuk perusahaan swasta di Jakarta, yang memiliki tempat penitipan anak dan ruang ASI pada 2010 sebanyak 50 persen.

Saya sebagai ibu menyusui yang juga wanita bekerja berharap adanya sosialisasi yang lebih gencar mengenai penyediaan ruang ASI di tempat bekerja dan tempat layanan umum bagi para pemilik perusahaan. Terima kasih.

Baby Prabowo
Jakarta

Surat pembaca diambil dari Koran Tempo tanggal 17 Juni 2013.