15 Juni 2013

Jaga Terus Stabilisasi Rupiah



Nilai tukar mata uang rupiah sedang terpuruk beberapa waktu terakhir ini. Alasan psikologis yang digunakan untuk menjelaskan melemahnya nilai rupiah mulai dari bursa Wall Street Amerika yang anjlok, jatuh tempo utang swasta sehingga banyak yang membutuhkan dolar, sampai dengan rencana penaikan harga BBM.

Sempat Se lasa lalu, rupiah menembus level Rp10.000/US$. Permintaan dolar saat ini sedang naik, karena investor asing menarik dananya dari Indonesia. Kondisi ini bisa dilihat dengan menurunnya indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Segala usaha dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mestabilkan rupiah dengan menaikkan suku bunga fasilitas simpanan BI sampai dengan menggelontorkan dana yang dibutuhkan mengikuti instruksi dari presiden.

Langkah BI ini patut mendapat dukungan, pasalnya untuk menstabilkan rupiah, juga harus mendapat dukungan dari pemerintah lewat kebijakan fiskal. Maka dari itu, untuk segera menstabilkan gonjang-ganjing rupiah di pasar valas, pemerintah harus cepat dan tegas dalam menetapkan kenaikan harga BBM baru.

Harus diakui, kebijakan tersebut ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi kebijakan tersebut menekan dolar terhadap rupiah, di sisi lain membuat kenaikan inflasi, terutama mendongkrak harga kebutuhan pokok dan transportasi.

Julia Gisel Jalan Pancoran Timur Raya No. 13 Jakarta Selatan

Surat pembaca diambil dari Bisnis Indonesia tanggal 15 Juni 2013.