14 Juni 2013

Ekspor Gas Harus Dihentikan



Pemerintah diminta melakukan moratorium atau penghentian sementara ekspor gas. Paradigma pemanfaatan gas dari sebelumnya sebagai sumber devisa negara harus segera diubah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Indonesia dinilai terlalu boros energi. Akibatnya ketika harga minyak mentah dunia bergejolak, pemerintah kalang kabut. Oleh karena itu, Pemerintah perlu menghentikan eks por gas mengingat kebutuhan gas bagi industri domestik meningkat, sedangkan persediaannya menipis.

Kalau energi yang ada bisa dihemat dan digunakan tepat sasaran, tentu cadangan energi bangsa ini pasti banyak. Sekarang ini cadangan gas kita cuma sampai 61 tahun. Demikian juga batubara cuma sampai 80 tahun. Oleh karena itu niat pe me rintah yang akan menghentikan ekspor gas patut di dukung.

Meskipun Pemerintah berulang kali berjanji mengurangi ketergantungan pada minyak bumi. Namun faktanya, sangat sedikit usaha konversi dilakukan. Kita bisa lihat tingkat konsumsi gas Indonesia pada tahun lalu baru sekitar 21%, sedangkan penggunaan minyak telah mencapai 50%.

Padahal cadangan minyak Indonesia telah jauh menyusut, sedangkan deposit gas alam masih cukup tinggi. Sebenarnya, rencana pemerintah lepas dari ketergantungan minyak telah dicanangkan sejak 1995. Namun, rencana tak jalan lantaran harga minya k dunia ketika itu masih rendah.

Kebiasaan pemerintah memberikan subsidi minyak membuat program konversi melayang-layang. Semoga janji pemerintah yang akan menyetop ekspor gas bisa terwujud. Kalau gas tidak diekspor tentu dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Herman Suhendar
Jln. Cipinang Baru Timur No.78 RT 007 RW 09 Kelurahan Cipinang, Kecamatan Jatinegara Jakarta

Surat pembaca diambil dari Bisnis Indonesia tanggal 14 Juni 2013.