13 Juni 2013

Pilkada Jengkol



Potret buram pelaksanaan demokrasi di Tanah Air kembali mengemuka. Terakhir, hasil pilkada Kota Palembang berakhir ricuh. Massa yang tidak menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait hasil Pilkada Palembang membakar toko elektronik di Palembang.

Aksi anarkistis massa ini tentu ada hubungannya kekalahan salah satu pasangan calon dalam pilkada. Pasangan yang kalah gagal menaikkan pamornya sebagai kepala daerah sehingga melakukan manuver yang dampaknya menyengat seperti setelah makan jengkol.

Jengkol kini harganya melambung tinggi. Sebelumnya satu kilogram jengkol hanya sekitar Rp 10.000 per kilogram kini menjadi Rp 50.000. Namun, jengkol lebih bermartabat daripada para calon kepala daerah yang kecewa dan tidak dapat menerima kekalahan.

Jengkol tidak mengobral janji untuk menaikkan harganya. Jengkol hanya punya gelar latin Archidendron pauciflorum, bandingkan dengan para calon kepala daerah yang mengaku mempunyai gelar akademik dari sarjana hingga profesor.

Jengkol pun tak akan protes jika harganya diturunkan kembali atau bahkan tak dihargai kembali. Rusuh hingga amuk massa memang acapkali terjadi dalam merespons hasil pilkada.

Catatan Kemendagri menyebutkan, 50 orang meninggal akibat rusuh pilkada antara 2005 hingga Mei 2013. Kemendagri juga mencatat sejak 2004 hingga Februari 2013 para kepala daerah yang terlibat kasus korupsi mencapai 70% atau 291 kepala daerah dari tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Penyebab tindak pidana korupsi tersebut diduga karena ongkos kampanye yang sangat besar. Ketika sang calon kepala daerah menang pilkada, mereka harus mencari balik modal atau bahkan mencari lebih untuk memperkaya diri.

Tingkah laku atau perilaku dari stakeholder pilkada sekarang ini tidak cerdas dalam merespons proses demokrasi. Para calon yang kalah seharusnya lebih legawa dalam menerima kekalahan dan si pemenang harus benar-benar amanah terhadap tugas sebagai kepala daerah.

Para kandidat sebelum ikut dalam pilkada harus bisa mengukur diri, baik dana kampanye maupun kapabilitasnya. Jika kemampuannya hanya sekelas jengkol busuk jangan berharap banyak.

T Hardi Sujono
Jl Tumenggung Jaya
No 19 Bandar Lampung

Surat pembaca diambil dari Suara Pembaruan tanggal 13 Juni 2013.