13 Juni 2013

Pemerintah Kembali Bilang Bbm Naik



Ujian lagi bagi pemerintah yang merencanakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kali ini, setelah beberapa kali undur, pemerintah seperti menegaskan harga BBM naik! Namun apakah hal itu akan dilakukan, entahlah.

Yang pasti, wacana itu sudah "membuahkan Hasil". Pertama, harga kebutuhan pokok sudah naik tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Kedua, akibat wacana kenaikan harga BBM itu, gelombang protes melalui unjuk rasa sudah belangsung di banyak tempat di negeri ini. Bahkan, tragis, terjadi kerusuhan antara mereka.

Sebelumnya, pemerintah seperti sudah menyatakan akan melakukan kebijakan itu di awal Mei. Namun, kenyataannya, hingga medio Mei ini, RAPBNP (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan) belum sampai ke tangan DPR. Jika benar bahwa pekan ini akan masuk ke DPR, untuk membahasnya, DPR tentu membutuhkan waktu beberapa minggu, minimal tiga minggu. Jadi, paling cepat RAPBNP selesai dibahas DPR pada minggu pertama Juni. Dan, harga minyak tidak akan mungkin dinaikkan pada pertengahan bulan.

Artinya, paling cepat, DPR setuju harga minyak bisa naik pada awal Juli 2013. Apakah mungkin harga BBM bersubsidi akan naik pada Juli, padahal itu adalah awal Ramadhan? Saat itu, inflasi biasanya cenderung tinggi, karena banyaknya permintaan bahan pokok. Bisa hancur daya beli masyarakat, dan bisa merusak kekhusulan ibadah masyarakat karena cekikan harga yang mungkin tak akan terelakkan lagi.

Bisa jadi pemerintah akan menunda lagi kenaikan harga BBM menjadi setelah Idul Fitri. Namun, saat itu, bulan inflasi tinggi pun tengah menghadang. Apalagi, sebelumnya tahun ajaran baru sekolah dimulai, inflasi pun cenderung meningkat. Entah apakah pemerintah akan memaksakan harga BBM naik di bulan ini, ataukah akan menundanya lagi? Yang pasti, bulan demi bulan berlalu, kian sedikit dana yang akan dihemat dari pengurangan subsidi BBM.

Sangat disesalkan bahwa sejak tahun lalu pemerintah terus ragu untuk menaikkan harga BBM. Namun, memberikan sinyal kenaikan harga, yang malah membuat harga bahan pokok naik dan tak kembali turun.
Hal yang sama pun diulangi tahun ini. Sejak awal tahun hingga saat ini, yang terdengar hanya keluhan terkait urusan anggaran yang memusingkan. Bahwa, defisit APBN jebol karena subsidi kelewat banyak, namun keluhan itu tak juga membuat ada keputusan untuk menyehatkan APBN yang sakit-sakitan.

Kepentingan politis membuat pemerintahan ini menutup kuping dan matanya. Alasan memikirkan rakyat malah jadi blunder yang ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat dan membuat kebingungan dunia usaha.

Semakin sulit menebaknya kapan pemerintah akan yakin dengan keputusannya. Inilah bagian dari pembawa kesengsaraan rakyat, pemerintah ragu bersikap. Dalam perang ini sudah bunuh diri!

Ribka Sjehan
Lenteng Agung
Jakarta Selatan

Surat pembaca diambil dari Suara Karya tanggal 13 Juni 2013.