12 Juni 2013

Empat Pilar Kebangsaan Harus Tetap Dijalankan



Taufiq Kiemas telah tiada. Namun meninggalkan Empat Pilar Kebangsaan yang digagasnya,, meski kini masih kontroversial. Sejak terpilih menjadi Ketua MPR Oktober 2009 lalu, Taufiq langsung mengadakan rapat dengan ketua-ketua Fraksi MPR menyusun program Sosialisasi UUD 1945, termasuk Pancasila.

Empat Pilar Kebangsaan tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Gagasan Empat Pilar berbangsa dan bernegara ini isinya menguraikan pentingnya menjaga NKRI dengan mengamalkan Pancasila agar tidak terperosok mengikuti jejak Uni Soviet (Rusia) dan Yugoslavia.

Namun belakangan, gagasan Empat Pilar Kebangsaan ini digugat oleh sejumlah kalangan yang tidak setuju penempatan Pancasila sebagai Pilar Kebangsaan.

Menurut mereka, Pancasila adalah pondasi dasar, bukan salah satu pilar dalam kehidupan kebangsaan. Selain itu, penggunaan kata Empat Pilar tidak tepat dan rentan penyimpangan anggaran APBN melalui kewenangan MPR dan pelanggaran hukum.

Jika sampai saat ini kita masih terus mempertentangkan soal 4 Pilar Kebangsaan ini, maka jangan harap NKRI akan tetap ada di peta dunia.

Yang ada hanya negara-negara bagian dari Indonesia, bukan lagi NKRI. Sejumlah fakta membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah hilang dari sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Maraknya bentrokan antar warga, antar suku dan kekerasan atas nama agama merupakan contoh bahwa nilai-nilai Pancasila sudah tidak lagi diamalkan bangsa Indonesia yang terkenal ramah tamah.

Pelanggaran nilai-nilai Pancasila juga kerap terjadi di kalangan pejabat negara. Mereka seharusnya lebih memberikan teladan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Korupsi adalah salah satu cerminan pelanggaran yang dilakukan para oknum pejabat.

Menyikapi sejumlah permasalahan i-tu, sudah selayaknya Empat Pilar Kebangsaan dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Teuku Fachri
Awanglong Raya 50,
Kota Samarinda, Kaltim

Surat pembaca diambil dari Suara Pembaruan tanggal 12 Juni 2013.