12 Juni 2013

Demokrasi Di Indonesia Masih Abu-abu?



Redaksi Yth,

Masa depan demokrasi di Indonesia belum terlihat Praktik demokrasi di Indonesia yang teijadi saat ini masih menggunakan perilaku masa purba dan premanisme.

Beberapa kasus kekerasan dan anarkis yang teijadi dalam beberapa masalah, mengisyaratkan masih perlunya demokrasi disuarakan secara lantang kepada seluruh pelosok negeri. Keberingasan sikap masyarakat dan perilaku anarkis yang timbul akibat kekecewaan menjadi contoh buram perkembangan demokrasi di Indonesia.

Kemandirian masyarakat dalam menilai sebuah persoalan yang berkembang masih menggunakan argumentasi ala preman. Masyarakat mudah terpro-vokasfdalam setiap persoalan.

Anehnya, ketika ada sebuah tindakan anarkis yang teijadi, tak pemah ada ujung. Siapa penggeraknya? Siapa yang bertanggung jawab? Aktor di balik peristiwa yang teijadi seakan tak pemah selesai. Padahal hal itu sangat penting sehingga masyarakat bisa berpikir rasional.

Hadirnya hukum yang tegak sangat diharapakan masyarakat. Jika menelisik sejumlah kasus anarkis dalam proses demokrasi, demokrasi di Indonesia sepertinya masih abu-abu.

Masyarakat masih belum maksimal dalam memahami sebuah perbedaan pendapat Padahal, hal itu sangat penting karena Indonesia adalah negara yang sangat plural.

Empat pilar nilai-nilai kebangsaan yang selalu didengungkan masih tersendat tataran pelaksanaan, belum menjadi nilai luhur yang dijunjung tinggi semua anak bangsa.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, di tengah terpaan arus globalisasi yang sangat deras. Cepatnya informasi diperoleh seharusnya bisa mempercepat pemahaman masyarakat dalam berbagai hal, termasuk nilai-nilai luhur Pancasila.

Ada kesan mendalam saat ini nilai-nilai luhur Pancasila sedikit demi sedikit dilupakan masyarakat, bahkan kepedulian pejabat negara terhadap nilai-nilai luhur Pancasila semakin terkikis.

Akibatnya demokrasi yang sedang dibangun tak membuahkan hasil, masyarakat lebih suka bertindak atas nama kepentingan kelompoknya daripada mengedepankan kepentingan umum yang jauh lebih bermanfaat demi kemaslatan bangsa.

Kondisi seperti ini tentu menjadi pekeijaan rumah kita bersama, bagaimana membangun pola pikir masyarakat yang rasional dan tidak menggunakan cara-cara premanisme dalam menyelesaikan setiap persoalan? Jika hal tersebut tidak segera dilakukan akan berdampak buruk bagi masa depan demokrasi di Indonesia.

Hendriwan Angkasa
Tanah Sereal, Tambora
Jakarta Barat

Surat pembaca diambil dari Sinar Harapan tanggal 12 Juni 2013.