12 Juni 2013

Kriminalisasi Perdata Memprihatinkan



Berita Kompas (15/5), Kriminalisasi Perdata Bisa Merongrong Wibawa, antara lain menyatakan bahwa beberapa hakim tipikor mengeluhkan banyaknya kasus bernuansa perdata tanpa melalui penyaringan serius di tingkat penuntutan. Hal ini menyulut keprihatinan atas nasib para terdakwa yang dijerat dengan tuduhan tersebut.

Saya menyebut itu sebagai iseng-iseng berhadiah. Karena, jika terdakwa dinyatakan bersalah, jaksa akan mendapatkan poin atau catatan prestasi yang membanggakan. Namun, apabila dakwaan dinyatakan tidak terbukti, jaksa tentu dapat berargumen bahwa hal tersebut disebabkan oleh kelemahan majelis hakim yang tidak mampu memahami dakwaan ataupun proses pembuktian yang telah dilakukan. Bola di tangan hakim.

Sederhana bukan? Sangat sederhana bagi jaksa, tetapi tidak demikian tentunya bagi terdakwa. Jika divonis bebas pun, tidak serta-merta apa yang telah mereka korbankan akan terpulihkan. Lunturnya reputasi, tekanan psikologis, termasuk pada anak dan keluarga, hak sipil yang telah tercabut berupa penahanan badan atau penahanan kota, pengorbanan waktu, tenaga, serta biaya tidak akan pernah setimpal dengan eksaminasi internal yang akan dilakukan terhadap para jaksa yang mengurus kasus tersebut.

Oleh sebab itu, diharapkan kebeningan hati dan pikiran hakim dalam mengambil keputusan agar tidak tersandera kasus-kasus yang ingin menunggangi agenda pemberantasan korupsi di negara ini dengan niat sempit dan gelap.

August Hulu Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur

Surat pembaca diambil dari Kompas tanggal 12 Juni 2013.