12 Juni 2013

Stabilisasi Harga Daging



PERUM Bulog kembali akan menggelar operasi ke pasar dengan menjalankan fungsi semula yaitu turun ke pasar-pasar. Bukan tanpa alasan pengembalian fungsi Bulog untuk melakukan operasi pasar. Hal ini mengingat sejumlah kebutuhan pokok seperti kedelai, daging, dan lain sebagainya meningkat beberapa tahun terakhir. Peningkatan ini terjadi akibat ulah para spekulan yang mencoba memanfaatkan situasi.

Sebut saja harga daging, misalnya. Harga daging yang melambung tinggi dalam beberapa waktu lalu adalah diakibatkan spekulasi yang dilakukan para importir. Bayangkanm sebanyak 73% pangsa pasar daging dikuasai oleh para importir. Apalagi bulan suci Ramadhan tinggal sebulan lain, dan disusul Hari Raya Lebaran. Konsumsi daging pasti akan meningkat tajam, dan di saat seperti itulah Bulog harus waspada adanya permainan harga oleh para spekulan.

Sejenak menengok ke belakang, yaitu pada 1998-1999 ketika terjadi krisis ekonomi dan berdampak pada mahalnya sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula dan minyak goreng. Saat itu, Bulog bekerja sama dengan induk pedagang pasar dan koperasi untuk menstabilkan harga. Bulog sukses mengikuti irama dan bersaing dengan para pemain atau pihak swasta yang mempunyai modal besar.

Seperti tidak mau kecolongan kembali, kini akhirnya pemerintah memberi Bulog kewenangan impor daging dan melakukan operasi pasar karena hanya Bulog yang bisa menjadi alat pemerintah untuk menstabilkan harga daging. Dengan adanya penunjukkan Bulog untuk kembali melakukan operasi pasar, hal itu akan membuat gerah para importir dan penggemukan sapi, dua pihak yang dituding menyebabkan mahalnya harga daging.

Julia Gisel Jl Pancoran Timur Raya Perdatam, Jakarta Selatan

Surat pembaca diambil dari Investor Daily tanggal 12 Juni 2013.