11 Juni 2013

Efek Penaikan Harga Bbm



Rencana penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sampai saat ini masih dalam tataran pro dan kontra, bahkan di Senayan pun masih alot dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Sebagian fraksi dengan tegas menolak rencana penaikan BBM, kendati pemerintah telah mengemukakan alasannya dengan baik.

Namun demikian, ada hal yang perlu dicermati di mana seharusnya rencana penaikan harga BBM itu justru harus ditangkap secara rasional oleh para wakil rakyat. Sebab, dengan logika anggaran pendapatan belanja negara yang ada saat ini dinilai tidak akan mampu menopang lonjakan harga minyak dunia yang menembus hingga angka 120 dolar per barel.

Untuk itu, hendaknya para wakil rakyat yang terhormat bisa bersikap lebih dewasa dan berpikir secara rasional. Anggaran yang dimiliki negara itu terlalu berat menampung beban kenaikan harga minyak dunia. Saat ini, subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh masyarakat di kalangan menengah ke atas.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kendaraan pribadi yang masih menggunakan BBM jenis premium. Adapun, rakyat miskin hanya kebagian sekitar 20% saja, dan subsidi dinikmati oleh kalangan menengah ke atas.

Meskipun penaikan harga BBM merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dielakkan, tetapi kenaikan itu akan berdampak positif bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pendapat ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Developing Countries Studies Centre (DCSC).

Efek dari penaikan BBM tersebut akan berimbas kepada kenaikan beberapa kebutuhan pokok lainnya seperti tarif dasar listrik (TDL) dan yang lainnya.

Namun, efek dari penaikan itu, pemerintah akan mengucurkan bantuan bagi masyarakat miskin. Bantuan langsung pemerintah untuk warga miskin itu diperuntukkan sebagai perangsang ekonomi masyarakat selama kurang lebih 9 bulan.

Dan, 9 bulan itu tentunya masyarakat bisa menjalankan persiapan-persiapan ekonomi ke depannya. Yang jelas, kebijakan penaikan harga BBM perlu disikapi dengan bijak, kepala dingin, tidak provokatif, dan cerdas.

Woro Sembodhro Baciro, Yogyakarta

Surat pembaca diambil dari Bisnis Indonesia tanggal 11 Juni 2013.