10 Juni 2013

Berpikir Jernih Soal Kenaikan Harga Bbm



Kesepakatan pemerintah dan DPR soal harga baru bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan tercapai akhir pekan ini. Menkeu Chatib Basri menuturkan, per Juni 2013, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter untuk premium, menjadi Rp 6.500.

Sedangkan untuk solar naik Rp 1.000 per liter, menjadi Rp 5.500. Kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi membawa dampak sosial, politik, dan ekonomi.

Tidak dapat dimungkiri setiap muncul wacana mengenai rencana kenaikan harga BBM bersubsidi dapat dipastikan di saat itu pula muncul sikap pro dan kontra.

Menaikkan harga BBM bersubsidi selalu dipandang sebagai kebijakan tidak populer secara politik. Argumen pihak-pihak yang mendukung kenaikan harga BBM bersubsidi karena tidak tepat sasaran dituding sebagai pro-neoliberalisme.

Sedangkan pihak penentang kenaikan harga BBM bersubsidi didaulat sebagai pahlawan karena berpihak pada wong cilik. Bahkan, kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi sering kali dipolitisasi para elite politik demi menuai simpati publik.

Mereka terseret dalam politik nirgagasan sehingga debat-debat mencerdaskan tentang perlu atau tidaknya menaikkan harga BBM bersubsidi menjadi hilang ditelan manuver-manuver politik penuh intrik.

Dalam skenario terburuk APBN 2013, jika tidak dilakukan penaikan harga BBM, subsidi dapat membengkak menjadi Rp 297,7 triliun. Semakin cepat mengumumkan kenaikan harga BBM dan besaran kenaikannya menjadi lebih baik meskipun seharusnya naik dari Januari kemarin. Akan ada anggaran yang diirit Rp 40 triliun.

Masyarakat sudah dari jauh-jauh hari mengetahui akan adanya kenaikan tapi yang menjadi masalah adalah ketidakpastian waktu dan harga.

Para ekonom, juga menyuarakan bahwa penyaluran BBM bersubsidi sudah tidak sehat dan bisa memboroskan keuangan negara karena tidak tepat sasaran.

Teguh Pujonugroho
Jl Serayu, No 19 Madiun, Jawa Timur

Surat pembaca diambil dari Suara Pembaruan tanggal 10 Juni 2013.