10 November 2012

Kecewa Dengan Pelayanan Telkomsel



SAYA adalah pengguna Kartu Halo dengan nomor 0811879998. Saya punya pengalaman yang sangat merugikan karena harus membayar tagihan sebesar Rp330.321. Saya mengetahui bahwa saya mempunyai tagihan sejumlah tersebut melalui sebuah surat yang dikirim oleh BPT Law Firm per tanggal 4 September 2012 bernomor 0911931-Si/KH-Tsel/ NPT.12, Perihal: Somasi I.

Inti surat tersebut, saya telah disomasi karena tidak melakukan pembayaran pemakaian pulsa telepon seluler. Berdasarkan surat tersebut, saya mendatangi Telkomsel Grapari Jakarta Pusat untuk mengetahui detailnya. Setelah mendapatkan keterangan dari pihak Telkomsel Grapari Jakarta Pusat yang bernama Dedi Kurniawan, kesimpulannya adalah saya tidak pernah melakukan pembayaran selama delapan bulan. Untuk tagihan yang dimaksudkan tersebut tidak pernah saya terima melalui pos.

Biasanya tagihan Kartu Halo saya dikirimkan melalui pos. Hal yang membuat saya kecewa ialah mengapa Telkomsel tetap menagih walaupun saya pernah meminta pemberhentian/pemutusan berlangganan terhadap nomor tersebut melalui call center di nomor telepon 111 melalui Kartu Halo tersebut. Hal kedua yang membuat saya kecewa terjadi setelah saya melakukan pembayaran sesuai nominal yang ditagihkan.

Saya ingin menyelesaikan kewajiban saya dan memastikan bahwa tidak ada lagi tunggakan, dan saya tidak mau lagi ada penagihan. Karena itu , saya meminta surat keterangan dan pernyataan telah melunasi dan telah melakukan pemutusan terhadap nomor tersebut. Dengan adanya surat tersebut saya berharap memiliki bukti autentik bahwa saya telah melakukan kewajiban.

Tetapi, justru saya diperintahkan oleh Bapak Dedi Kurniawan untuk meminta keterangan kepada law firm yang mengirim surat penagihan kepada saya. Saya sangat kaget dengan jawaban tersebut. Bukankah seharusnya dan logika normalnya saya mendapat surat keterangan dari pihak Telkomsel karena melakukan pembayaran kepada pihak Telkomsel, bukan pihak ketiga (law firm yang dimaksud oleh Bapak Dedi).

Saya langsung mengungkapkan keberatan akan hal tersebut kepada Bapak Dedi Kurniawan. Tetapi, sekali lagi mendapatkan keterangan yang mengejutkan bahwa pihak Telkomsel tidak pernah mengeluarkan surat keterangan seperti yang saya maksud. Sungguh aneh, perusahaan sebesar Telkomsel tidak pernah mengeluarkan keterangan tersebut, di mana permasalahannya?

Hal ketiga yang makin menambah kekecewaan ialah menerima tanda pembayaran dengan nama petugas yang tertera di lembar pembayaran tersebut tidak sama dengan orang yang sebenarnya melayani saya. Di lembar pembayaran tersebut tertera nama Zulfi I Firdaus, sedangkan petugas yang sebenarnya adalah bernama Bapak Dedi Kurniawan.

Saat saya tanyakan, menurut Dedi, hal tersebut bisa terjadi karena petugas yang sebenarnya menggunakan ID orang lain untuk menjalankan sistemnya. Lalu saya bertanya lagi, apa kah hal tersebut diketahui oleh atasan atau supervisor, dan jawabannya adalah atasan mereka juga mengetahuinya.

Saya benar-benar merasa aneh kenapa hal ini bisa terjadi di perusahaan sebesar Telkomsel. Perusahaan ini adalah pe rusahaan berbasis dengan IT. ID seseorang tidak seharusnya dipergunakan orang lain, karena ID tersebut sangat berkaitan erat dengan implementasi hukum. Melihat keanehan-keanehan itu, saya sangat berharap mendapat tanggapan atau keterangan lebih mendetail dari pihak Telkomsel dan bagian yang berkaitan mengenai hal tersebut.

Saya sangat tidak ingin kekacauan tersebut berimbas terhadap diri saya untuk ditagih kedua kalinya. Karena pada lembar pembayaran yang saya terima sama sekali tidak terdapat keterangan pembayaran untuk bulan apa dan besaran tagihan tiap bulannya. Yang ada hanya total biaya yang saya bayarkan. Untuk keanehan itu saya meminta rincian tiap bulannya untuk di-print, dan sekali lagi jawabannya tidak jelas.

Sutan Maruhum M Jln Ampera II/ No 29 Jakarta Utara 14420 085216125582

Surat pembaca diambil dari Media Indonesia tanggal 10 November 2012.