09 November 2018

Perempuan Bukan Mesin Pencetak Uang



LAGI-lagi perempuan dijadikan kambing hitam atas kemerosotan ekonomi. Salah satunya seperti yang diutarakan oleh salah satu perusahaan konsultan manajemen multinasional McKinsey & Company.

McKinsey melaporkan bahwa negara-negara di kawasan Asia-Pasifik dapat meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) kolektif mereka sebesar US$ 4,5 triliun pada 2025 jika mereka memperhatikan kesetaraan gender dalam lingkungan kerja.

Padahal bila perempuan terus didorong supaya setara dengan laki-laki dalam urusan "mencetak uang" itu artinya akan ada lebih banyak waktu yang harus dia alokasikan untuk bekerja. Sehingga lambat laun tugas utamanya sebagai seorang ibu dan pengatur urusan rumah tangga akan terbengkalai. Karena bagaimanapun juga perempuan bukanlah robot. Ia memiliki keterbatasan tenaga dan pikiran.

Jika demikian, tugasnya untuk "Mencetak generasi"-pun akan semakin sulit. Padahal bila generasi mengalami krisis, dampaknya bukan hanya akan terjadi krisis ekonomi tapi yang lebih mengerikan adalah krisis dalam kehidupan keluarga, kerusakan masyarakat, bahkan sampai kehancuran bangsa dan peradaban. Mengerikan.

Sejatinya Islam sudah siapkan solusi untuk "sehatnya sektor ekonomi" tanpa harus merenggut harkat dan martabat perempuan. Bukan hanya itu, Islam pun mampu memberikan keadilan dan kesejahteraan tanpa diskriminasi juga tanpa harus mencabut fitrah perempuan sebagai seorang perempuan dan ibu.

Nuril Izzati Bogor



Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Radar Bogor tanggal 09 November 2018.