19 Oktober 2018

Transportasi Berbasis Rel Di Jabodetabek



Menarik juga membaca usulan dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPJT) baru baru ini yang menyebut bila moda transportasi masai bagi wilayah Jabodetabek adalah berbasis rel. Sebenarnya pernyataan dari BPJT ini bukan hal yang baru. Transportasi berbasis rel saat ini jadi andalan transportasi di wilayah megapolitan tersebut. Ini berkat kehadiran dari komuter Jabodetabek yang sudah sanggup mengangkut hingga satu juta penumpang per hari.

Tapi, BPJT punya perhitungan lain. Menurut badan ini, bakal banyak warga Jabodetabek yang mengandalkan transportasi publik ketimbang pribadi. Penyebabnya tak lain karena mulai adanya penerapan pembatasan kendaraan ke ibukota. Apakah itu lewat aturan ganjil-genap atau yang tengah dibahas, jalan berbayar.

BPJT menghitung, bila banyak warga yang berpindah ke moda transportasi publik, maka transportasi masal yang saat ini sudah beroperasi tidak bakal cukup. Terutama Transjakarta. Badan ini pun mengusulkan agar semua jaringan Transjakarta yang ada berbasis rel. Jadi sebanyak 13 jalur Transjakarta yang ada diganti dengan rel alias trainway.

Tujuannya adalah untuk memperbanyak jumlah angkut penumpang. Memang kalau diperhatikan bus transjakarta yang punya daya angkut banyak adalah yang bus gandeng. Nah, untuk trem, nantinya bisa punya empat hingga lima gerbong.

BPJT rencananya akan merealisasikan rencana tersebut mulai tahun 2020. Masih lama memang, karena rencana tersebut belum disosialisasikan ke instansi terkait. Tapi sepertinya solusi yang ditawrarkan BPJT masuk akal. Karena tinggal membangun jaringan rel di jalur busway yang sudah tersedia. Soal pengelolaannya sepertinya mengikuti proyek LRT Jabodetabek. Mari kita tunggu realisasinya.

Sudarmadji S,

Cibubur. Jakarta Timur

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Kontan tanggal 19 Oktober 2018.