11 Oktober 2018

Ketimpangan, Kesenjangan Ekonomi, Dan Kesenjangan Sosial



KALAU melihat kampanye kedua cawapres saat ini, di sini kita melihat masalah ekonomi. Terutama, karena minimnya kesejahteraan rakyat. Paling tidak terpenuhinya kebutuhan pokok sehari-hari/pangan. Sebenarnya, peluang untuk hidup sejahtera terbuka, tapi ada seni dan ada ilmunya. Manusia Indonesia baru sadar kalau sudah terdesak.

Saat ini, kondisi ekonomi masih jalan di tempat. Negara kaya, tapi manusianya tidak berdaya. Negara indah, tapi manusianya sering hidup susah. Dan sekarang yang menjadi korban si "Emak" yang mengurus dapur dengan harga kebutuhan pokok sehari-hari yang terjangkau mahal. Harga konglomerat dan rakyat hidup melarat. Di sini perlu disinggung adanya ketimpangan dan kesenjangan ekonomi. Dan bicara daya beli yang menurun. Ini bisa terjadi.

Karena, pertama kondisi ekonomi yang timpang atau tidak jalan. Kedua, karena kondisi masyarakatnya sendiri yang konsumtif. Dan ketiga, karena kondisi kehidupan sosial. Antara lain, kondisi politik yang penuh dengan korupsi dan budaya perilaku menyimpang. Misalnya, perilaku masyarakat yang konsumtif. Dan kampanye cawapres Sandiaga S Uno tentang "Politisasi Emak" Maksud "Emak" di sini adalah emak yang mengurus dapur berbasis kebutuhan dasar, alias sembako. Kalau harga sembako tinggi, seperti sekarang, maka "Emak" akan menjadi korban. Artinya, dapur saja "tidak bisa ngebul" Atau kebutuhan dapur dikurangi akibat dari daya beli yang menurun. Makan dikurangi. Anak sekolah tidak bisa sarapan pagi.

Kalau di Indonesia, masalah ekonomi bisa terlihat di masyarakat luas. Ada pepatah, "Kalau politik tidak aman, ekonomi tidak jalan. Politik tidak aman. Karena, banyaknya kasus korupsi yang terjadi. Biasanya, kalau kondisi ekonomi lemah, akhirnya berdampak pada kemiskinan. Dan, miskin itu artinya kelaparan, kurang gizi dan busung lapar. Apalagi, yang namanya desa tertinggal merupakan kantong kemiskinan. Desa tertinggal adalah daerah yang terpencil dan terisolir. Menurut Menteri Desa Tertiggal, Eko Putro Senjoyo, ada 30% desa tertinggal di Indonesia.

Ini harus kita akhiri. Salah satunya, dengan cara pembangunan infrastruktur. Karena, dengan infrastruktur, selain terjadi pembangunan fisik atau jalan, juga terjadi pembangunan mental. Atau, sering disebut pemerintah dengan istilah pembangunan budaya.

Kalau masalah kemiskinan, masyarakat akan kecewa dan tidak puas dan dilampiaskan dalam bentuk intoleransi dan radikalisme. Bahkan terorisme dan antipancasila.

Di Indonesia, masalah ekonomi harus fokus diarahkan ke ekonomi rakyat atau ekonomi desa. Karena Indonesia adalah negara pertanian. Saat ini masalah daya beli yang menurun. Karena harga kebutuhan pokok yang terjangkau mahal. Masalah ekonomi yang timpang dan menjurus kepada kemiskinan. Akhirnya muncul ketimpangan ekonomi, kesenjangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Tiga masalah ini membuat Indonesia terjebak masalah.

Dan sebelumnya, Indonesia dikeroyok oleh ekonomi yang tidak jalan, daya beli yang menurun dan ekonomi yang menjurus kepada kemiskinan. Solusinya sebenarnya tidak sulit. Ingat Indonesia adalah negara pertanian yang berbasis desa.

Seperti yang dianjurkan Pemerintah, yaitu membangun Indonesia dari desa. Desa adalah sumber kesejahteraan lewat ekonomi rakyat atau ekonomi desa versi mantan Menteri Pertanian, Profesor Bungaran Saragih dari IPB. Ada istilah dan pepatah, "Hidup di Indonesia mudah dan murah. Indonesia bagai potongan surga yang jatuh ke Bumi Pertiwi dan menjadi cemburu ratusan bangsa".

Oleh Ir. Jan Barlian MSc.
(Agh,Faperta,IPB).

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Radar Bogor tanggal 11 Oktober 2018.