11 Oktober 2018

Ayah, Bunda, Awasi Gawai Ananda



KONON kabarnya saat ini adalah era disrupsi. Era otomasi di segala bidang. Era di mana perubahan fundamental telah merubah tatanan kehidupan masyarakat sedemikian rupa. Internet of things pun akhirnya bak pisau bermata dua Segala kemudahan diperoleh karena akses informasi yang cepat Sayangnya hal itu harus dibayar dengan arus informasi rusak yang sangat masif, terutama pada remaja. Mereka dibuai dengan pornografi dan gaya hidup bebas yang dengan mudah diakses via internet

Kasus penemuan tindak asusila melalui aplikasi mengobrol WhatsApp (WA) oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi, adalah salah satu contohnya. Grup VVAyang beranggotakan 24 siswa dan siswi SMP itu kerap berbagi video pomo dan antaranggota saling mengajak berhubungan badan.

Tentu saja hal ini mengkhawatirkan. Trennya tak lagi sekadar menonton video pomo namun remaja-remaja sudah berusaha mempraktikkannya.

Menurut Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi, Mohammad Rozak, hampir seluruh kasus terjadi lantaran minimnya pengawasan orang tua. Saat gawai dikunci orang tua cenderung abai.

Pro-kontra memang mewarnai pendapai mengenai kepemilikan gawai pada anak-anak. Dari sini perlu pemikiran bijak dari orang tua untuk menetapkan plus-minus pemilikan gawai pada anak Akses internet adalah akses hias tanpa batas. Pun jika kita telah memproteksi sedemikian rupa dengan option parental control, bisa saja anak-anak kita mendapatkannya dari teman Maka alangkah lebih bijak jika anak-anak yang pemikirannya masih labil tersebut dibatasi aksesnya pada gawai Akses informasi bisa kita buka seluasnya melalui mendorong mereka banyak membaca buku-buku edukatif.

Bagi ananda yang tak memiliki gawai ayah dan bunda jangan dulu merasa aman. Karena bisa saja mereka mengakses konten pomo dan pergaulan bebas melalui lingkungan pergaulannya.

Dari sini yang terpenting adalah orang tua hadir dalam pendidikan anak. Ayah dan bunda ada untuk mendidik dan menjadi sahabat bagi ananda. Melalui keteladanan Islam menjadi dasar untuk membentuk kepribadian anak. Ayah dan bunda tak terlalu sibuk bekerja sampai tak sempat membangun komunikasi dengan anak Saat ananda dirundung masalah, mereka tahu ke mana harus mengadu dan mencari solusi.

Terakhir, Negara pun semestinya hadir menjalankan fungsi pengawasannya. Konten pomo di dunia maya mesti di-block. Media-media baik cetak dan elektronik mesti diawasi agar tak turut menyebarkan gaya hidup bebas pada remaja. Negara juga harus hadir dalam pembinaan ketakwaan remaja Sehingga nantinya remaja-remaja akan memiliki filter diri terhadap konten yang merusak. Wallahiia'lam Bislishawab.

Ashaima Va ashaima.va@gmail.com

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Radar Bogor tanggal 11 Oktober 2018.