25 September 2018

Surat Terbuka Untuk Manajemen Lion Air



MINGGU (16/9) saya mengalami kejadian aneh saat terbang menggunakan maskapai Lion Air. Bukan soal delay berjam-jam seperti yang sering saya dengar. Kali ini saya naik pesawat, tapi nomor kursinya tidak ada.

Hari itu saya naik Lion Air dari Palembang ke Jakarta dengan jadwal penerbangan pagi. Malam harinya saya sudah check in daring dan dapat kursi nomor 35F.

Ketika naik ke pesawat ternyata kursinya cuma sampai nomor 34. Kesialan saya bertambah karena bertemu dua awak kabin yang kurang mengerti sopan santun. Ketika saya bertanya baik-baik soal nomor kursi yang cuma sampai 34, dia cuma bilang, "Standby saja dulu. Nanti dijamin pasti dapat kursi," jawabnya tanpa menjelaskan apa yang terjadi

Saya sampai bertanya maksudnya standby itu apa dan dijawab standby saja di belakang dulu. Penjelasan itu dilakukan sambil memunggungi saya.

Saya ikuti instruksinya mundur hingga dekat toilet dan berdiri di sana. Kebetulan, di sebelah saya berdiri seorang awak kabin lain dan saya sempat melirik papan namanya kalau tidak salah tertulis Sherryl.

Ketika hal serupa saya tanyakan, dia memberikan jawaban, "Di web check in itu konfigurasinya untuk pesawat besar, sedangkan ini kita pakai pesawat kecil."

Boro-boro bilang maaf atas situasi yang terjadi, senyum saja tidak. Saat saya menanyakan duduk di mana, tanpa beban si mbak menjawab, "Duduk di kursi kosong saja dulu."

Belum sampai lima menit duduk di tempat kosong, yang punya kursi datang. Awak kabin yang tadi menyuruh saya duduk berbalik mengusir saya. Dia bilang saya cari lagi kursi kosong, lagi-lagi dengan nada ketus.

Akhirnya, karena sudah kesal saya bicara dengan nada keras dengan mengatakan masalah nomor kursi itu bukan kesalahan saya. Kok, manajemen maskapai seperti mengatur angkot saja.

Akhirnya, iMbak Sherryl dengan nada kesal menyuruh temannya untuk memanggil ground staff dan mengurus saya. Lagi-lagi sang staf menyebutkan. "Duduk saja di bangku yang kosong." Ternyata bukan saya saja yang mengalami hal itu. Ada pasangan suami istri yang membawa anak senasib dengan saya. Setelah sempat berdebat, akhirnya petugas mengarahkan suami mereka ke bagian depan.

Kepada jajaran manajemen Lion Air yang terhormat, tahukah Anda tak ada ucapan maaf dari kru pesawat sampai mendarat. Sebagai penumpang saya merasa jengkel dengan kejadian ini, merasa dibohongi, serta direpotkan dengan kesalahan internal maskapai Anda.

Apakah masalah seperti ini masuk ranah pengawasan Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kemente-rian Perhubungan? Apakah manifest penumpang sesepele itu untuk maskapai seperti Lion Air? Apakah dengan memberi kursi sisa lalu persoalan selesai? Apakah dua awak kabin seperti itu tidak dididik bagaimana cara memperlakukan penumpang dengan baik?

Satwika Ika

Kompleks Delta Kedoya, Jakarta Barat

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Media Indonesia tanggal 25 September 2018.