23 September 2018

Puisi



Rahmat Akbar
Bus Mengantar Maut

Di jalur terkorak air mata mengalir Sukabumi jadi saksi
Nyawa-nyawa memesan nisan dalam sekejap Mengantar menuju jalan pulang

Tenanglah kalian di sana
Pada gigil waktu
Pada musim berguguran
Pada garis tangis perhentian

Oh Tuhan
Inikah pertanda untuk kami semua
Setiap yang bernyawa
Dijemput dengan cara yang berbeda makna

Musafir

Datang atau pergi
Adalah segumpal cerita yang kau tulis dalam rasa

Di sini sekelebat aksara dan puisi pernah terangkai
Pada lamun dan khayal tentang kenangan
Pada suatu perjalanan lelaki pencari kebenaran

Ketika suara panggilan merdu menyapamu di perjalanan
Dengan ringan kau langkahkan kaki ke rumah Tuhan
Membasuh wajah yang telah kusut
"Kutahu di mana-mana ada Kau"

Dalam deretan waktu
Terbungkus rapi doa dan cinta
Melumat segala resah
Maka di rumah-Mu. aku singgah melepas lelah dunia

Rahmat Akbar, lahir di Kotabaru, Kalimantan Selatan, 4 Juli 1993. Puisinya pernah mengisi beberapa media massa nasional dan lokal serta sejumlah antologi bersama. Sekarang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di SMA Garuda Kotabaru dan pendiri sekaligus pembina bagi siswanya di komunitas Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru.

Iin Khurotul'aen
Perkembangan Ego

Matahari yang terik, dan kebab yang tersaji
Memberi asupan
Dua rasa yang mewakili
Peralihan pada detikdetiknya
Berubah tak terduga
Suasana yang tak sedamai lalu

Hanya karena sebuah canda pada pesan yang terbaca Jadilah perdebatan panjang yang tiada henti, sungguh Aku lapar!
Kamu hanya ingin ini selesai

Memang batu yang tuli
Cakapku takkan ada arti
Siang itu ramai pengunjung
Aku duduk menunduk.
sesak melahirkan embun
Beginikah cinta, yang hanya ada lukaJuka
Tanpa menyangkut rasa percaya

Luka dan Penantian

Pulang,
Tiada niatankah?
Rumah tak terkunci untuk menyambut kedatangan
Jika selesai bermain, maka kemarilah!

Setiaku pada penantian adalah bentuk dari sebuah kesungguhan
Mana peduli tentang maumu.
Seperti seacuh kamu meninggalkanku tanpa pesan
Kulihat kamu tertawa bersama dia.
Di ujung jalan sana yang kau namai jalan kenangan
Begitukah tawamu mengeras, saat aku tengah mengalami luka?

Kau juara!

Iln Khurotul'aen. lahir di Karawang pada 25 Juni 1998. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsika. Bergiat di Komunitas Menulis Kelas FPBSI '16.

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Pikiran Rakyat tanggal 23 September 2018.