14 September 2018

Desa Wisata Sebagai Alternatif



Oleh Prof Usman Pelly, Ph.D

Jangan bayangkan wisatawan mancanegara lebih senang tinggal di hotel berbintang, naik boat mewah keliling danau. Banyak yang memilih mengunjungi desa wisata

Mengembangkan pariwisata pedesaan dapat dianggap sebagai alternatif paling tepat menghadapi situasi pacekelik rupiah yang semakin mengancam. Terutama di tahun politik dan tekanan ekonomi global dewasa ini yang sukar diprediksi pemulihannya dalam waktu yang singkat. Masyarakat di pedesaan kelak akan semakin rentan, walaupun berdasarkan data BPS tingkat kemiskinan di pedesaan sekarang telah menurun. Tetapi itu lebih banyak karena program-program kuratip yang dilakukan pemerintah, seperti ketepatan waktu penyaluran bantuan sosial dan realisasi penyalurannya yang mencapai target. Namun, seperti diutarakan berbagai ahli, adalah sebuah ironi bahwa sebagian besar penduduk desa yang memproduksi komuditas pertaniannya, tetapi untuk bahan pangan mereka sendiri harus membeli dari pedagang. Karena bukan rahasia lagi petani menjual hasil pertaniannya, kemudian membeli hasil olahan pertanian tersebut dengan harga lebih tinggi. Sebab itulah sektor pertanian yang menjadi tumpuan penduduk desa semakin kurang menguntungkan, meskipun produktivitasnya akan ditingkatkan setiap tahunnya. Apalagi luas lahan mereka, secara nasional rata-rata kurang dari 0,5 ha, sedang banyak pertani penggarap yang tidak memiliki lahan sendiri.

Dapat dimaklumi pula, apabila pendapatan petani jauh lebih rendah dari upah minimum regionalnya sendiri. Sementara di masa depan, lahan-lahan produktif yang ada semakin berkurang karena dialihfungsikan menjadi lahan kelapa sawit, jalan tol dan berbagai industri lainnya. Belum lagi berbagai bencana alam seperti hutan dan lahan terbakar, gunung meletus, gempa bumi dan tanah longsor, air bah yang selalu mengancam kehidupan mereka. Desadesa kita kelak, tidak pelak lagi menjadi kantong-kantong kemiskinan bangsa. Sebab itu diperlukan terobosan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka tanpa harus berurbanisasi atau menggantungkan diri pada bantuan sosial pemerintah. Salah satu cara paling efektif ialah memindahkan sentra industri ke pedesaan dengan pemanfaatan sumber daya alam lokal yang dapat menggerakkan perekonomian desa itu sendiri. Yaitu mengembangkan pariwisata di pedesaan, dengan kata lain menjadikan desa sebagai destinasi wisata yang baru.

Desa Wisata Berdikari

Sekitar tahun 1979, sewaktu melakukan penelitian disertasi doktor, saya mengitari desa-desa dari Tapanuli Selatan sampai ke Sumatra Barat. Di Maninjau tempat kelahiran bebuyut saya, para orangtua menemui saya, untuk menanyakan apa yang saya bawa dari rantau. Saya jawab saya masih sekolah. Waktu mereka mendengar saya berkuliah di Universtas of Illinois di Chicago Amerika Serikat, mereka berpandangan satu sama lain. Wah kalau begitu rantau anak telah jauh, datanglah ke surau kami dan di sana nanti ceritakan, apa yang dapat kami lakukan di sini dari rantau itu.

Saya kaget juga apa yang harus diutarakan, tetapi saya ingin menceritakan apa terjadi di tepi danau Erie, dekat Air Terjun Niagara. Bukankah penduduk di tepi danau itu mengembangkan semacam home stay (rumah-rumah pondokan) untuk wisatawan. Sementara selama satu dua hari, mereka telah berenang dan bersenang-senang mengedari danau itu. Ternyata cerita yang saya ini memikat beberapa kelompok penduduk yang berumah di tepi Danau Maninjau. Tiga tahun kemudian ketika saya kembali ke sana, mereka dengan gembira mengatakan usaha home stay itu, alhamduliliah telah berhasil baik. Banyak wisatawan asing (bule) datang dari Bukit Tinggi menginap sehari dua di rumah-rumah yang mereka siapkan.

Saya mendatangi rumah-rumah itu, cukup bersih dan menyenangkan, apalagi berada di bawah pohon rindang yang menambah keindahan danau Maninjau yang berada di hadapan mereka. Makanan pun menurut mereka sangat digemari bulebule itu. Waktu saya tanyakan apa ada masalah? Mereka saling berpandangan. Salah seorang etek-etek sambil tersipu mengatakan, ketika bule-bule itu mandi, selalu saja ada beberapa anak-anak muda nongkrong melihat mereka. Saya cepat memaklumi maksudnya. Karena itu saya nasehatkan agar mereka, pergi ke Bukitinggi membeli handuk sepanjang tumit kaki sampai ke dada. Setiap kali para perempuan bule itu hendak mandi, sodorkan handuk besar itu untuk dipakainya. Bukankah ini masalah universal dari perbedaan budaya antar bangsa di dunia ini?

Begitu juga waktu saya mengunjugi bererapa desa di Panguruan bertemu beberapa inang-inang, menceritakan dalam beberapa tahun ini mereka telah menerima tamu yang senang dengan berbagai pohon buah-buahan di pekarang rumah mereka. Wisatawan itu tinggal bersama beberapa hari. Ternyata mereka tidak kehabisan tamu. Padahal tidak seorangpun dari mereka memasang iklan atau pengumuman baik di kantor desa atau tempat lain. Karena yang menjadi iklan adalah berita dari mulut ke mulut para mantan wisatawan, kemudian beredar tanpa mereka sadari. Saya belum menemukan semacam home stay di Tamah Karo atau Nias. Beberapa bekas mahasiwa saya di Nias Selatan ada yang menceritakan telah ada homestay di beberapa tempat, terutama di pantai tempat wisata wan berselancar. Memang di daerah itu sekarang tidak ada hotel berbintang, walaupun wisatawan asing berdatangan, ada di antaranya termasuk telah berkelas dunia.

Wisata Desa Batu Megalitik

Beberapa bulan lalu sewaktu menghadiri peresmian Marga Zeboa di Gunung Sitoli, saya menyempatkan diri menjelajahi pedalaman Nias. Saya menemukan beberapa desa dimana banyak rumah penduduknya terdiri dari situs-situs gua batu besar purbakala zaman megalitik. Di halaman muka rumah-rumah itu masih berdiri kukuh bangunan batu bersusun menhir untuk tempat pemujaan dan dolmen kursi raja dan para pembesarnya, serta tempat acara lompat batu Nias yang terkenal itu, serta susunan rumah teradisional yang mengagumkan. Bungkahan besar batu-batu zaman megalitik ini sangat langka di Dunia. Saya sempat menyarankan pada para petinggi di Nias, agar diusahakan mendirikan wisata rumah desa megalitik di daerah itu.

Situs ini akan menarik wisata tidak hanya kelompok melanial domestik, tetapi terlebih lebih wisata dari macanegera. Saya memberikan contoh, pemerintah Jerman Selatan menjadikan beberapa desa di daerah Bayer Munchen, dijadikan museum desa sebelum Perang Dunia Pertama (1920- an). Kalau kita memasuki desa itu, akan mendapati rumah-rumah kuno sederhana yang didiami penduduk Jerman ketika itu. Kelihatan masih asli dan utuh. Bahkan di dalam rumah yang terawat rapi itu, masih dapat kita temui keadaan ruang tamu, kamar makan lengkap dengan piring, sendok dan garpu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur mereka, dengan peralatannya. Kita dapat melihat kelambu, tilam dan bantal serta peralatan mandi, karena ada juga yang masih memakai sumur mandi biasa.

Diperlihatkan juga cara mereka mengolah makanan, menggiling gandum atau jagung dengan dua batu giling bundar yang dihela kuda. Begitu juga kincir air untuk keperluan air bersih dan listrik di desa itu. Yang menarik pekarangan mereka ditanami sayur organik (yang tidak memakai pupuk buatan atau peptisida). Sayur mayur ini merupakan oleh-oleh para wisatawan. Di sekitar desa juga dibangun toko-toko sovenir yang ramai dikunjungi wisatawan.

Pulau Nias, apabila mampu membangun desa-desa batu megalitik seperti yang saya ajukan di atas, dengan contoh desa di Bayer Munchen, akan memiliki daya tarik sendiri yang rasanya tidak ada duanya di muka Bumi. Memang potensi alam lokal sangat bervariasi di Sumatera Utara, dapat dimanfaatkan penduduk setempat sebagai potensi wisata dan akan menjadi magnet perekonomian desa. Berbagai contoh dapat disimak di Nusantara yang telah mengembangkan wisata desa, seperti Pantai Pasir Itam di Sabang, Desa Nyalo Painan Sumatra Barat, Desa Adat di Madobak Mentawai, Desa Taman Sari di Bayuwangi, Desa Pujon Kidul di Malang dengan wisata agro-nya. Pasar Seni di Ubud Gianyar, hingga Umbol Ponggok di Klaten.

Beberapa di antaranya desa-desa wisata ini, menurut Tasmilah (Statisi pada BPS Kota Serang-Republika) mampu menghasilkan Rp6,5 miliar setahun. Yang menarik dan di luar dugaan, kebutuhan terhadap desa wisata ini sangat besar, terutama di kalangan kelompok wisatawan domestik terkait gaya hidup milenial yang dikenal sebagai leisure economy berupa rekreasi ke tempat wisata pedesaan. Via sosial media mereka mengembangkan dan memperkenalkan lokasi wisata desa ini dalam jejaring sosial yang telah menjamur.

Danau Toba Megapoyek Wisata Menurut rencana Menteri Pariwisata, rute Kuala Lumpur-Silangit mulai dioperasikan Oktober 2018 frekuensi empat kali seminggu. Pemerintah akan pemperpanjang landasan di Silangit dari 2.050 meter menjadi 3.000 meter, dan memperluas apron dan bangunan terminal mengakomodir lebih banyak pesawat dan penumpang. Ternyata perencanaan ini masih banyak ditanggapi masyarakat sekitar Danau Toba sangat beragam. Ada yang gembira, tetapi banyak juga yang was-was bahkan curiga, apakah mereka masih punya tempat dalam mega proyek itu.

Mereka seakan tersisih. Kalau saja Anda keliling Danau Toba dan melihat kanan kiri, ada saja yang datang dan bertanya apakah Anda (mungkin seorang calo) yang sedang mencari lahan untuk mendirikan hotel. Seyogianya Pemda di tujuh kabupaten sekitar Danau Toba dapat menjelaskan bahwa kita menginginkan berkembangnya ratusan desa wisata. Karena kita berhasrat memindahkan sentra industri pariwisata ke pedesaan dengan membangun desa sebagai pusat destinasi wisata. Jangan bayangkan wisatawan mancanegara lebih senang tinggal di hotel berbintang, naik boat mewah keliling danau. Banyak yang memilih mengunjungi desa wisata, ketika masyarakat memang telah mencoba dan berusaha sejak sekarang membangunnya.

Saya pernah tinggal tiga hari di perkampungan Narumonda (1947) dekat Sitio-tio Porsea, menghadiri pernikahan guru saya dari Kutacane. Kami tinggal di rumah adat dan makan bersama belingkar, dengan piring lebar-lebar. Karena mereka tahu saya Muslim mereka menghidangkan ikan danau Toba yang dibakar. Perhelatan sangat meriah. Tetapi yang menarik saya ialah taritarian dan acara nonton bareng teater tradisional Batak Tilhang. Acara seperti inilah yang sangat didambakan wisatawan. Mereka akan tersipu pulang ke negerinya menceritakan kenangan indah di desa wisata.

Ketujuh kabupaten di Danau Toba itu memiliki potensi alam cukup menarik bagi turis. Dari perkebunan teh Simalungun, sampai perkebunan sayur, buah dan bunga di Tanah Karo atau membawa mereka berdendang ke Simalem, menjelajahi hutan dan air terjun serta berlayar mengelilingi Danau Toba. Jadi jangan bayangkan turis mengalami seperti mereka berwisata ke Paris atau ke New York! Kita berharap wisata desa dapat mengembangkan sumber daya alam lokal, termasuk potensi wisata yang dapat menjadi magnet baru menggerakkan perekonomian desa, sehingga desa tidak menjadi kantong kemiskinan. Insya Allah!

Penulis adalah Antropolog Unimed.



Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Waspada tanggal 14 September 2018.