14 September 2018

Ustadz Somad (hijrah) Jangan Menyerah



Oleh Sofyan Harahap

Andai ketika jabatan presiden vakum, terjadi keadaan darurat atau keadaan bahaya, siapa yang berwenang menyatakan negara dalam keadaan bahaya

Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah sudah memasuki hari kelima. Insha Allah kita semua bagian dari anjuran melakukan hijrah untuk meningkatkan kehidupan dan keimanan lebih baik serta ketakwaan kepada Allah SWT. Hijrahnya Nabi Muhammad SAW di masa lalu perlu kita resapi dan terus kita lakukan berulang-ulang, tiada henti untuk mendapatkan mahfirah dan ridha-Nya. Sangat merugilah orang-orang yang gagal melakukan introspeksi diri, apatis dengan keadaan sehingga derajatnya tidak naik kelas di mata Sang Pencipta.

Terkait eksistensi dakwah ustad Abdul Somad, LC, MA yang mendapat hambatan, bahkan persekusi di berbagai daerah, kita harapkan ustadz Somad bersabar dan juga merenung, introspeksi serta berhijrah mencontoh Nabi Muhammad SAW sehingga dapat meneruskan dakwahnya. Yang namanya dakwah harus dilakukan terus-menerus oleh para dai, para ustadz, para penceramah agama, para kyai. Walaupun banyak tantangannya para ulama tidak boleh berputus asa. Pantang menyerah! Contohnya Nabi Muhammad SAW hijrah dari Kota Makkah ke Madinah membuahkan hasil gemilang. Setelah sukses membangun masyarakat Madinah beradab, usaha Nabi SAW menaklukkan Kota Makkah semakin mudah dilakukan. Artinya, tidak boleh berputus asa dalam berjuang di jalan Allah SWT.

Benar bahwa Nabi SAW merasakan berat dan sulitnya mengembangkan dakwah Islam, mentauhid dan mengesakan penduduk Makkah yang jahiliyah, maka strategi perpindahan Baginda mengalihkan peta perjuangannya terbukti merupakan terobosan jitu. Di wilayah yang baru Nabi SAW lebih leluasa mengembangkan syiar agama (Islam) nan-rahmatan lil-alamin. Dan itulah yang dibuktikan Rasulullah sehingga Islam dapat diterima oleh pemeluk agama lainnya di Madinah, di mana Nabi SAW bertindak sebagai kepala pemerintahan yang adil bagi pemeluk agama Islam maupun agama-agama lainnya. Mereka hidup harmonis.

Perjuangan Nabi Muhammad SAW mengembangkan dakwah begitu fenomenal, dan kita sebagai pengikutnya harus mencontoh dan meneladaninya sesuai kemampuan masing-masing. Oleh karena itu, kejadian yang dialami ustadz Somad sejatinya masih belum ada artinya dibandingkan perlawanan yang dilakukan musuh-musuh Islam di zaman Rasulullah masa dulu kala.

Pemunculan ustadz Somad yang begitu cepat terkenal dengan jutaan penggemarnya di media sosial membuat banyak pihak cemburu. Banyak ustadz dan kyai kehilangan pengikutnya. Kalau yang cemburu dari kelompok non-muslim hal itu masih dianggap wajar, namun faktanya ustadz Somad malah dimusuhi oleh kelompok-kelompok yang mengaku muslim dengan cara melawan hukum. Larangan berceramah di satu daerah merupakan pukulan telak buat ustadz Somad. Walau pada awalnya dia tidak menanggapinya, namun intensitas kelompok yang menentang kehadirannya semakin tinggi dan meluas sehingga ustadz Somad dengan berat hati terpaksa memutuskan untuk membatalkan ceramahnya di tiga provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta.

Keluhan yang disampaikan ustadz Somad lewat akun Instagram-nya mengejutkan banyak pihak. Sayang aparat penyidik, Polri, tidak menindaklanjuti kasus-kasus yang dialaminya, seperti peristiwa persekusi di Bali yang berlangsung dramatis dan kasat mata. Kalau yang pasti-pasti saja tidak terselesaikan oleh aparat penegak hukum, maka wajar kalau ustadz Somad tidak lagi mengadu ke polisi atas sejumlah ancaman, intimidasi, dan teror, termasuk fitnah-fitnah yang semakin vulgar di media sosial dari orangorang yang ingin mencari tenar (popularitas).

Mencari-cari kesalahan

Kita merasa sedih, tahun lalu di Bali ustadz Somad dipersekusi dan dipaksa mengikrarkan janji dan sumpah setia di atas Al-Quran kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada kecurigaan di otak sekelompok Ormas ustadz Somad tidak cinta tanah air, ada dugaan ustadz Somad tidak Pancasilais, ada kekhawatiran kalau-kalau ustadz Somad sudah menjadi pendukung salah satu ormas Islam yang dibubarkan dan kini ditunggangi eks HTI. Menjadi pendukung atau bagian dari aksi terorisme dan radikalisme.

Pada tahun 2018 di Semarang, Jateng, ceramah ustadz Somad juga ditolak oleh sejumlah ormas, kita sebut saja perwakilan ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN), FKPPI, Laskar Merah Putih, serta Banser NU Kota Semarang. Mereka mengatakan penolakan tersebut lebih disebabkan oleh sosok ustadz Somad yang terkait dengan HTI. Ada keterlibatan eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam pelaksanaan kegiatan ini, kata penolak ustadz Somad seperti dikutip kantor berita Antara. Tanpa menyanyikan lagu Indonesia Raya pihak penolak ustadz Somad siap membubarkan pengajian ustadz kelahiran Batubara, Asahan, Sumut, yang besar di Riau. Kesannya sok paling Pancasilais. Padahal, dalam rekaman video di Medsos masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan ceramah terkait masalah kebangsaan, perjuangan pahlawan, UUD 45, Pancasila, Piagam Jakarta, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua terekam dan mereka hanya ingin mencari-cari kesalahan ustadz Somad saja.

Untuk tidak gegabah, saya selaku penulis meminta pendapat sejumlah ulama papan atas, bergelar profesor dan doktor agama terkait ceramah ustadz Somad, apakah betul mengandung provokasi atau kesalahan dalam menjabarkan syariat Islam? Ternyata tidak. Mereka mengatakan, ustadz Somad pendakwah yang komplit. Ilmu agamanya tinggi, berdasarkan Al-Quran dan hadits, serta para ulama Islam masa lalu yang diambil dari berbagai buku terkenal. Para pejabat negara, termasuk Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wapres Jusuf Kalla ikut memuji tampilan dan isi ceramah ustadz Somad, positif, materinya berisi karena banyak referensi, dan tidak ada muatan negatif seperti yang dicurigai sekelompok Ormas di Bali dan Semarang. Dengan berceramah di hadapan pimpinan DPR-MPR dan mendapatkan sambutan meriah. Ustadz Somad juga diundang berceramah di Mabes TNI AD, di petinggi MA. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono turun tangan langsung untuk mendatangkan ustaz Somad pada Juni lalu sehingga sangat naf jika masih ada Ormas yang merasa lebih nasionalis, lebih cinta NKRI, lebih Pancasilais, sementara karyanya belum kelihatan ada sama sekali. Jangan sampai seperti pepatah, menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Merasa diri hebat dan selalu menuduh orang lain salah dan radikal, namun di mata masyarakat sebaliknya. Merekalah yang acapkali dicap negatif, premanisme dan anti-NKRI.

Jangan menyerah

Dalam sejarah Islam, penanggalan tahun baru disebut tahun Hijriyah adalah hasil dari musyawarah Umar bin Khattab dan para sahabatnya untuk menetapkan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai awal penanggalan dalam kalender umat Islam. Tak pelak lagi tahun baru Hijriah begitu penting bagi sejarah kemajuan umat Islam. Sehingga ia bukan sekadar pergantian tahun saja tetapi ada makna yang terkandung di balik tahun baru Hijriyah untuk mencontoh dan meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika mengembangkan agama Allah (Islam). Nabi SAW tidak berputus asa dalam mengembangkan Islam di mana pun juga. Gagal di Makkah karena mendapatkan penentangan Nabi SAW berpindah ke Madinah untuk menjalankan strategi baru dalam pengembangan Islam. Setelah berhasil mengislamkan Madinah baru Nabi SAW kembali ke Makkah sehingga jazirah Arab akhirnya menjadi Islami. Selanjutnya dakwah dan syiar Islam berkembang hingga jazirah Afrika, Asia Timur, Spanyol, dan negara Eropa lainnya. Oleh karena itu tahun baru bermakna perubahan dan perjuangan dari yang kurang baik menjadi baik dan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Disayangkan kalau dalam pergantian tahun baru Islam terlihat sepi-sepi saja, sepertinya bukan di negara yang mayoritas Islam. Hal ini menyedihkan, seharusnya di Indonesia yang sekira 90 persen penduduknya Islam bisa jauh lebih meriah ketimbang pergantian tahun Masehi untuk meningkatkan iman dan takwa umatnya.

Pergantian tahun selalu ditunggu dan dirayakan oleh masyarakat dunia, namun perayaan antara tahun baru Islam (Hijriyah) dengan tahun baru Masehi berlangsung kontras. Kalau pergantian tahun Masehi berlangsung gemerlap di hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia dan Kota Medan, sebaliknya pergantian tahun baru Islam (Hijriyah) sepi kegiatan. Hanya sebagian masyarakat saja yang sadar dan berpartisipasi ikut meramaikan, khususnya komunitas Ormas Islam. Tentu kita senang dan gembira melihat sejumlah acara tabligh akbar menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah di berbagai daerah, masih tetap hidup di tengah masyarakat (umat Islam), termasuk di Kota Medan.

Tak pelak lagi, menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk mengawal ustadz Somad, jangan sampai kezaliman merajalela terhadapnya. Namun begitu kita harapkan juga dia mengklarifikasi hal-hal yang dinilai salah oleh kelompok yang menentang dan mengintimidasi. Introspeksi untuk tidak terlalu keras berbicara satu topik kalau memang tidak perlu. Dengan kata lain, mundur selangkah untuk maju 1000 langkah, kecuali terkait hal yang prinsip. Untuk itulah kepada para ulama, khususnya ustadz Somad kita minta jangan menyerah dengan banyaknya tantangan dan cobaan, termasuk penolakan dan persekusi di sejumlah daerah di P. Jawa. Teruslah berdakwah mencontoh teladan umat Nabi SAW dengan cara berhijrah bila diperlukan. Hakkul yakin, semuanya akan terselesaikan dan indah pada waktunya dengan bangkitnya kejayaan umat Islam di bumi nusantara bahkan dunia.*** Penulis adalah Wapenjab Waspada


Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Waspada tanggal 14 September 2018.