10 Agustus 2018

Konsultasi Alquran



Assalamualaikum Wr. Wb., Pertanyaan :

Jika benar Rasul tidak mewajibkan umrah sekali seumur hidup dan tidak menganjurkan haji lebih dari sekali, siapakah penggagas ajaran ini ?

Zulmudya-Medan Jawaban :

Terimakasih atas pertanyaannya. Tentang berapa kali dianjurkan melaksanakan ibadah haji atau umrah tidak dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Adapun yang dijelaskan adalah kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu (Lihat QS. Ali Imran: 97).

Di sisi lain juga banyak ayat Alquran dan hadis-hadis yang memotivasi untuk menunaikan ibadah haji dan umrah melalui pesan-pesan kebaikan dan pahala yang besar. Salah satu hadis yang terkenal adalah tidak ada balasan haji yang mabrur kecuali surga adalah balasannya (Muttafaq alaih). Berdasarkan nash-nash tentang kebaikan haji dan umrah, lalu apakah ada pembatasan? dengan alasan bahwa Rasulullah hanya sekali melaksanakan ibadah haji dan dua kali melaksanakan ibadah umrah?

Tentu, tidak ada pembatasan, dan justru disunnahkan sebanyakbanyaknya sebab banyak kebaikan dalam ibadah haji/umrah.

Namun, untuk menjawab hal ini, kita harus memahami konsep ibadah secara menyeluruh dan luas. Ajaran Islam harus dipahami dan diamalkan secara menyeluruh, bahwa ibadah haji adalah salah satu ibadah dan rukun Islam. Masih banyak lagi bentuk-bentuk ibadah lain yang pokok dan penting berkaitan dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bukankah tugas manusia adalah untuk memakmurkan bumi? (Lihat QS. Hud: 61). Oleh karena itulah, menurut penulis, hikmah yang terbesar dari contoh yang dilakonkan oleh Rasul. Bahwa Rasulullah SAW. hanya melaksanakan ibadah haji sekali yang disebut dengan Haji Al-Akbar, dan dua kali umrah yang disebut Haji Al-Ashgar (Lihat Husein Haikal, Sejarah Hidup Muhammad).

Analisis sejarah ini dapat saja dipahami secara berbeda, misalnya bagaimana Nabi Saw. berhaji hanya sekali, disebabkan kondisi yang sulit dimana Nabi Saw. dan umat Islam diembargo oleh kafir Quraisy Mekkah saat itu. Namun sejarah itu dapat juga dipahami bahwa Rasulullah SAW. tidak ingin memaksakan pelaksanaan ibadah haji yang memakan biaya dan waktu yang besar untuk dilaksanakan berkali-kali, sedangkan ibadah-ibadah yang lain yang bersifat sosial masih banyak menanti seperti pengentasan kemiskinan, pengangguran, meninggikan peradaban Islam dan seterusnya. Oleh karena itulah, berbagai hadis menyebutkan beberapa amalan yang setara dengan pahala haji seperti memakmurkan masjid, menuntut ilmu dan kebaikan dan mengajarkan kebaikan, berbuat baik kepada orang tua dan seterusnya. Wallahualam.

Dr. Mustapa Khamal Rokan, MA Pertanyaan dapat diajukan melalui SMS atau WA: Mustapa Khamal Rokan (081375238649), Yusdarli Amar (081396217956), Tuah Sirait (08126577281)

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Waspada tanggal 10 Agustus 2018.