10 Agustus 2018

‘jenderal Kardus’ Pertanda Koalisi Prabowo Tidak Solid



Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tiba di kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kuningan, Jakarta, Kamis (9/8) pagi. Mengenakan kemeja batiklengan panjang warna cokelat Prabowo tiba sekitar pukul 09.55 WIB. Hanya sekira satu jam Prabowo sudah kembali ke rumahnya di Jalan Kartanegara.

Pertemuan kedua ketua umum itu disebut melanjutkan komunikasi yang sempat terputus karena kubu Demokrat menolak kedatangan Prabowo sehari sebelumnya. Ada komunikasi yang terputus sehingga ada pemahaman yang lompat dalam proses ini sehingga terjadi distorsi informasi, demikian penjelasan pengurus Gerindra.

Yang mengejutkan publik setelah keduanya batal bertemu Rabu (8/8) sore keluar semacam kekecewaan dari pengurus Demokrat dengan menyebut Prabowo jenderal kardus. Apa maksudnya? Rupanya Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief merasa kecewa dengan sikap Prabowo yang ' 'mencla-mencle". Istilah jenderal kardus katanya merupakan ungkapan bagi jenderal yang tidak mau berpikir menghadapi pilpres.

Hemat kita, keluarnya ucapan yang mengerdilkan sosok Prabowo menunjukkan koalisi yang dibangun Ketum Gerindra dengan Demokrat dan PKS dan PAN belum solid, 'lldak sesolid kubu Jokowi yang semuanya tertata dan terkoordinir. Hanya Jokowi yangtahu siapa Wapresnya dan Jokowi pun sudah menegaskan Wapresnya berinisial M.

Beda dengan kubu Prabowo. Walaupun sudah ada ijtima ulama memaketkan Prabowo dengan Salim Segap Aljufri atau Prabowo dengan Ustad Somad, namun Prabowo masih belum percaya diri memilih antar keduanya. Ustad Somad sendiri sudah berulang kali menyatakan menolak dicalonkan sebagai Cawapres. Artinya, tinggal mendeklarasikan Prabowo - Salim Segap Alfupri saja. Tapi, ada keraguan bisa menang karena elektabilitas Salim rendah. Kajian kubu Prabowo bisa benar bahwa nama Salim Segap tidak setenar Ustad Somad sehingga agak susah menjual kader PKS itu untuk Pilpres 2018.

Maju ke gelanggang Pilpres memang memerlukan kajian mendalam, apalagi targetnya menang/Masalahnya, maju dalam Pilpres memerlukan dana luar biasa besar untuk dana kampanye, alat peraga, keperluan logistik, saksi dll. Tanpa logistik yang cukup bisa-bisa mesin partai tidak bergerak sehingga dipastikan bakal kalah.

Oleh karena itu, Prabowo merasa perlu bertemu dengan SBY untuk menindaklanjuti kesepakatan sebelumnya. Bisa saja pasangan Prabowo dengan Agus Harimukti Yudhoyono (AHY) untuk menarik pemilih kalangan muda (mUenial) namun lagi-lagi terganjak dana untuk logistik yang diperkirakan mencapai Rpl triliun sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menalangi dana luar biasa besar untuk Pilpres.

Jadi hal yang wajar kalau kemudian muncul nama Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno. Prabowo dan Sandi sudah bertemu dan sudah terjalin ' deal" antara keduanya. Munculnya nama Sandi sebagai Cawapres Prabowo menguat jelang penutupan pendaftaran pasangan capres-cawapres untuk Pemilu 2019 yang tinggal sehari lagi (besok). Tidak sulit ditebak mengapa Sandiaga Uno pilihan Prabowo karena dia bisa mendukung pendanaan yang tidak kecil untuk keperluan logistik Pilpres mendatang. Inilah yang tidak dipahami oleh kubu Demokrat, khususnya Andi Arif sehingga mantan aktivis 1998 itu memberi gelar Prabowo jenderal kardus langsung menjadi "bola liar" mainan dan*'olok-olok" lawan politiknya. Sejalan dengan itu mencuat pula tudingan dari Wasekjen Partai Demokrat itu menyebut Sandi menyetor masing-masing Rp500 miliar kepada PAN dan PKS untuk memuluskan jalan bagi Sandi menjadi calon RI-2. Ini harus diverifikasi. Bila perlu diadukan ke polisi karena bisa menjatuhkan nama baik PKS dan PAN dalam pemilu sekaligus Pilpres nanti.

Harus diakui kalau koalisi kubu Jokowi jauh lebih solid ketimbang kubu Prabowo dalam menentukan siapa Cawapresnya. Tidak ada yang menyangka kalau Prabowo - Sandi bakal menjadi pasangan Capres dan Cawapres karena keduanya sama-sama dari satu partai (Gerindra).

Dengan kondisi kubu Prabowo yang seperti itu (tidak solid) membuka peluang Jokowi bakal mulus memenangkan Pilpres 2019, apalagi kalau Cawapres Jokowi dari kalangan ulama NU selaku ormas Islam terbesar di Indonesia. Pertarungan Pilpres 2019 baru seru dan seimbang andai Jokowi juga mengambil kader PD1P seperti Puan Maharani sebagai Cawapres, atau memunculkan poros ketiga.+


Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Waspada tanggal 10 Agustus 2018.