10 Agustus 2018

Haji Hanya Sekali Berikutnya Sunnah (1)



Jumlah tabungan haji yang tersimpan di bank atau dalam bentuk Dana Abdi Umat sudah menembus angka 100 triliun rupiah, namun -walaupun sudah ada peningkatan-tetap saja pelayanan haji Indonesia terbilang masih kalah dibandingkan negara-negara lain, seperti Malaysia dan Turki.

W' "W" eadline WASPADA Sabtu (4/8) m m mengangkat berita sedih dan M M mengenaskan, 116WNI terja--M_ JL ring razia pihak keamanan Arab Saudi. Dari hasil pemeriksaan berita acara pemeriksaan (BAP) Petugas dari Konsulat Jenderal RI (KJR1) leddah diTarhil (Pusat Detensi Imigrasi), ke-116 orang VVNI ini sebagian besar memegang visa kerja dan via umrah.

Menurut Koordinator Pelayanan dan Perlindungan Warga (KPW) Safaat Ghofur, para WNI digerebek di dua lokasi oleh petugas keamanan Arab Saudi. Pertama, pada sebuah penampungan di kawasan Misfalah, Makkah pada Jumat, (27/7). Kedua, di luar Kota Makkah. Mereka tengah menyeberang melalui perbatasan masuk ke Kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.

Jadi, tujuan mereka ingin berhaji dengan cara ilegal dan umumnya berasal dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka membayar sewa kamar dengan biaya bervariasi, dari 150 hingga 400 riyal per kepala. Sebagian dari mereka menyewa beberapa syuggah atau rumah dalam satu gedung melalui calo dari Bangladesh. Rumah-rumah tersebut dihuni 10 sampai 23 orang, bercampur antara laki-laki dan perempuan. Mereka merasa tidak tenang, dalam ketakutan, dan sangat tidak manusiawi selama masa penantian musim haji.

Yang pasti niat mereka bermaksud ibadah melaksanakan rukun Islam kelima baik namun caranya tidak mengikuti aturan pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.

Salah seorangyang ditangkap mengaku berangkat dengan visa umrah dan masuk ke Saudi sebelum bulan puasa. Ada juga yang datang pada saat Ramadhan untuk umrah Menurut pengakuan WNI yangtidak mau disebutkan namanya pada awalnya berniat haji, namun karena harus menunggu belasan tahun lamanya niat haji diganti umrah, dan seterusnya berusaha naik haji dengan cara ilegal. Untuk itu, mereka harus mengeluarkan uang besar, sekira Rp60 juta ke travel Sesampainya di Makkah mereka harus membayar uang tambahan sebesar 500 riyal untuk menebus paspor kepada guide. Setelah di Makkah, mereka bebas ke mana saja dan tak ada urusan dengan travel Atas kejadian ini, Konsul Jenderal Mohamad Hery Sarifudim mengimbau masyarakat agar menunaikan ibadah haji sesuai prosedur yang telah diatur Pemerintah Arab Saudi. "Tidak baik juga beribadah tapi dengan melanggar hukum negara setempat," ujar Konjen.

Wajib haji hanya sekali

Sial betul nasib 116WNI terjaring razia pihak keamanan Arab Saudi. Sudah mengeluarkan uang banyak, hidup dalam pengejaran petugas di Arab Saudi karena ilegal pada akhirnya gagal berhaji. Masih untung petugas KBRI di Arab Saudi tanggap mengurus permasalahan mereka sehingga dalam waktu dekat semuanya bisa dipulangkan ke tanah air, tanpa harus menjalani proses persidangan dan mendekam dalam penjara.

Kasus yang dialami seratusan WNI pada musim haji tanun ini sama dengan taiiun-tahun sebelumnya Bahkan, mereka bersedia membuat paspor menjadi WN Filipina demi bisa mengerjakan rukun Islam kelima berhaji karena umat Islam di Filina jumlahnya sedikit, sementara kuotanya berlebih sehingga dimanfaatkan oleh calo-calo umrah, termasuk mengganti identitas sebagai warga lokal. Sudah banyak yang lolos, namun tahun lalu petugas imigrasi Bandara di Filipina merasa curiga karena yang pergi rombongan umrah menggunakan bahasa ' 'asing" adas bukan bahasa yang digunakan warga Filipina sehari-hari. Kecurigaan semakin besar setelah diinterogasi memang benar menggunakan paspor "aspal" asli tapi palsu. Semuanya itu mereka lakukan dengan penuh risiko demi melaksanakan rukun Islam kelima naik haji ke Baitullah.

Sesuai syariat agama kewajiban haji hanya sekali seumur hidup bagi yang mampu. Mereka yang mampu, memiliki uang cukup harus berjuang melaksanakan haji dengan penuh risiko, termasukmenempuh ialur ilegal karena untuk mendapatkan kesempatan berhaji saat ini liarus menunggu belasan tahun. Daftar tunggunya semakin lama dari tahun ke tahun semakin panjang. Rata-rata sekira 15 tahun.

Pada masa lalu sebelum reformasi melaksanakan ibadah haji bisa dilaksanakan setiap tahun bagi yang mampu karena minat dan kemampuan masyarakat (umat Islam) masih belum begitu besar. Peningkatan minat dan kemampuan umat Islam berhaji saat ini patut disyukuri. Artinya, umat Islam di Indonesia semakin sejahtera hidupnya dan semakin kuat kadar imannya

Dalam ajaran Islam berhaji hukumnya wajib bagi orang-orang yang sudah mampu seumur hidup sekali. Bagi mereka yang mengerjakan haji lebih dari satu, maka hukumnya sunnah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWTyang artinya- "Padanya terdapat tanda-tanda yangjelas (di antaranya) maqam Ibrahin, barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh Alam. (QS. Ali Imran: 97).


Justru itu, bagi umat Islam yang sudah mampu secara finansial dan kesehatan diwajibkan untuk naik haji dengan berkunjung ke tanah suci Makkah dan Madinah untuk melakukan amal ibadah panggilan Allah SWT menunaikan ritual Nabi Ibrahim AS sesuai dengan syarat, rukun, dan waktu yang telah ditentukan. Disebutkan, haji diwajibkan bagi orang-orang yang mampu dalam artian orang tersebut mempunyai bekal yang cukup untuk ia pergi
haji dan bekal untuk keluarga yang ditinggalkannya. Dan berhaji dilaksanakan pada bulan tertentu, yaitu Zulhijjah. Pada bulan lainnya disebut haji kedi atau umrah. Bedanya, kalau haji ada tahapan melontar tiga jumrah, prosesi Arafah dan Mina, pada umrah tidak dilakukan. Biasanya, jamaah umrah hanya mengunjungi lokasi saja untuk melihat padang luas yang hanya digunakan setahun sekali pada masa musim haji.

Magnet haji

Saat ini sudah hampir setengah dari 210 ribu jamaah haji Indonesia tiba di tanah suci. Sebagian masih di Madinah dan sebagian langsung melaksanakan ritual menunggu puncak haji di Makkah. Sungguh menyenangkan bisa berhaji pada masa kini karena semua kebutuhan jamaah difasilitasi dengan baik oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenag (Panitia Haji), baik penerbangannya, pemondokannya, makanannya, transportasinya, obat-obatannya, sampai pembimbing hajinya.

Panitia Haji berkewajiban memberi jaminan bahwa setiap jamaah haji yang berangkat dapat melaksanakan seluruh rukun dan wajib hanya. Bagi yang berhalangan karena sakit Panitia Haji wajib memberi pengobatan, dan melakukan safari wukuf, dan bagi yang meninggal dunia sebelum memasuki puncak haji kewajiban Panitia I Iaji untuk melakukan badai liaji bagi mereka yang meninggal dunia.

Bangsa Indonesia patut berbangga dengan tingginya minat umat Islam melaksanakan ibadah haji (kini 210 ribu jamaah lebih setelah kuota haji dikembalikan seperti semua). Walau ONH (sekarangBPIH=Biaya Perjalanan Ibadah Haji) mencapai Rp30an juta peminatnya semakin banyak. Bahkan daftar tunggu haji Indonesia mencapai belasan tahun.

Jumlah jamaah haji Indonesia paling banyak dibandingkan negara-negara lain. Junilah tabungan haji yang tersimpan di bankatau dalam bentuk Dana Abdi Umat sudah menembus angka 100 triliun rupiah, namun -walaupun sudah ada peningkatan---tetap saja pelayanan haji Indonesia terbilang masih kalah dibandingkan negara-negara lain, seperti Malaysia danTurid. Terutama j arak penginapan menuju Masjidil I laram mayoritas masih amat jauh seliingga banyak jamaah haji yang hanya beberapa kali saja menginjakkan kakm^^a ke pelataran Kabah pada musim haji tahun-tahun sebelumnya. Mudah-mudahan sajapada musim haji tahun ini lokasi pemondokan yang sangat jauh, ibaratnya tempat jin buang anak, sudah tidak ada lagi sebagaimana janjinya Menteri Agama dan Panitia Haji. Jarak terjauh idealnya hanya 2 km saja sehingga bagi calhaj yang sehat jarak tersebut tetap bisa ditempuh dengan berjalan kaki jika memang transportasi bus shalawat bermasalah.

Pada musim haji sebelumnya kelihatan kontras fasilitas yang dimiliki jamaah Indonesia dengan negara-negara lain, meski jumlah jamaahnya lebih sedikit namun menempati penginapan atau maktab yang terbilang bagus dan dekat dengan ritual haji, khususnya di Makkah. Seharusnya dengan besarnya uang umat Islam yang berhaji tersimpan di tabungan haji dan Da-naAbadi Umat bila dikelola dengan benar tidak sulit buat pemerintah/panitia haji Indonesia mendapatkan penginapan yang dekat dengan Masjidil Haram dan lokasi strategis di Mina untuk melontar jumrah. Cukup dengan menggelontorkan bunganya saja atau liasil bagi hasil jika disimpan dalam bentuk investasi, obligasi atau saham seluruh jamaah haji kita bisa merasakan manfaatnya.

Pelayanan haji tahun 2018 ini secara umum diklaim Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ini sejalan dengan selesainya perluasan Masjidil Haram di Makkah maupun Masjidil Nabawi di Madinah. Dua hal yang menarik dicermati di masa lalu pada musim haji tahun ini belum ditemukan. Pertama, banyaknya keluhan jamaah haji yang menempati pemondokan jauh dari Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sudah letaknya jauh, tidak pula dilengkapi dengan transportasi bus yang memadai, sehingga banyak jamaah haji yang kesulitan beribadah ke masjid yang dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS beserta putranya Nabi Ismail AS.

Bagi jamaah yang aktif, mereka tidak lagi menunggu bus, tidak menunggu mengalirnya jatah air di kamar mandi (pemondokan) , tapi langsung berangkat ke Masjid Nabawi dan mandi di tempat pengambilan air wuduk yang ratusan jumlah (bangunan toilet bertingkat). Itu jauh lebih efektif karena bisa langsung mengerjakan shalat Arbain 40 waktu terus-menerus selama sembilan hari di Madinah. Tak pelak lagi rombongan kelompok terbang (kloter) atau gelombang pertama lebih dulu ke Madinah mengerjakan shalat Arbain. Dan umumnya semua jamaah mampu mengerjakannya walaupun jauh tapi diupayakan bisa shalat 40 waktu berjamaah tanpa terputus karena disunatkan dengan imbalan pahalayang luar biasa besar.

Situasi beribadah di tanah suci memang berbeda jauh dengan di tanah air atau kampung jamaah masing-masing. Bukan saja jumlahnya dari liari ke hari meningkat tajam tapi suasananya memang kontras.


Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Waspada tanggal 10 Agustus 2018.