20 Juni 2018

Personal Branding Untuk Hindari Konfl Ik Massa



GEGAP gempita tahun politik sebentar lagi mencapai puncaknya pada 27 Juni 2018. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Era digitalisasi yang menyentuh dunia perpolitikan Indonesia memberikan warna tersendiri. Hal tersebut terlihat dari aktifnya para politisi dalam melakukan personal branding khususnya melalui media sosial.

Fenomena personal branding ini tentu untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat secara lebih personal. Para politisi melirik personal branding sebagai cara kampanye mereka tentu bukan tanpa alasan. Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia, merupakan kesempatan emas untuk menarik perhatian dan simpati dari masyarakat.

Memperkenalkan para politisi ataupun para calon legislatif secara lebih personal melalui komunikasi massa yang intens dan bersifat masif dianggap lebih efektif.

Dengan personal branding, para politisi bisa memperkenalkan siapa mereka dan apa yang bisa mereka lakukan.

Personal branding sangat baik dilakukan. Selain untuk aktualisasi diri dengan kelebihan yang dimiliki, cara ini juga untuk menghindari adanya bentrok massa yang mungkin terjadi apabila menggunakan kampanye dengan pengerahan massa ke jalanan.

Kampanye-kampanye yang dilakukan di jalan-jalan terkadang menimbulkan kerusuhan dan keresahan warga. Akan tetapi dengan personal branding, masyarakat akan lebih tahu secara bijak calon yang akan dipilihnya. Kampanye akan menjadi lebih dingin walaupun tidak dimungkiri akan timbul masalah baru seperti ujaran kebencian maupun hoaks.

Sebagai masyarakat Indonesia yang baik dan pengguna internet yang bijak, alangkah baiknya bila kita tidak terprovokasi dengan pancingan-pancingan yang tersebar di media sosial. Setiap orang berhak punya pilihan. Setiap orang berhak memilih. Jadi, apabila ada orang lain yang berbeda dengan pilihan, biarkan saja. Menghargai orang lain jauh lebih terhormat daripada ikut rusuh di media sosial.

Roffi Lisa Viyani
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Media Indonesia tanggal 20 Juni 2018.