14 Juni 2018

Jeli Melihat Tragedi Di Palestina



TEWASNYA Razan Ashraf al-Najjar, paramedis perempuan berusia 21 asal Palestina, merupakan tragedi bagi kemanusiaan. Tidak seharusnya anggota medis menjadi sasaran tembak dalam suatu konflik Sangat disayangkan, Razan yang aktif bersuara untuk kaum perempuan Palestina yang sering mendapat perla-kaan judgemental menjadi korban dalam suatu aksi yang sarat oleh kepentingan politik.

Tragedi Razan, sedikit-banyak memberikan amunisi bagi Hamas, faksi berkuasa di Jalur Gaza, dalam persaingan memenangi opini publik Palestina dari rivalnya, Fatah, yang bermarkas di Ramallah, Tepi Barat Postingan mengenai tewasnya Razan menjadi viral di seluruh jej aiing media sosial. Suatu pencapaian besar bagi Hamas, selaku salah satu faksi pendukung demonstrasi, sehingga mereka bisa menunjukkan kepada publik bahwa Hamas bersuara lebih lantang untuk Palestina daripada Fatah yang saat ini memegang tampuk kekuasaan Kawasan Otoritas Palestina.

Padahal, peran Fatah sebagai penyambung suara rakyat Palestina di dunia internasional pun tidak dapat dipandang enteng. Dari diplomasi yang terus-menerus mereka lakukan, beberapa negara berpengaruh, seperti negara-negara Skandinavia (Norwegia, Swedia, serta Denmark) dan Prancis, akhirnya mengakui kedaulatan Palestina beberapa waktu lalu.

Benang kusut konflik Israel-Palestina ini tampaknya makin sulit diurai dengan adanya persaingan politik antara kubu Hamas dan Fatah. Pemerintah dan masyarakat Indonesia diharapkan lebih jeli dalam mendukung negara Palestina dengan menitikberatkan dukungan kepada kelompok-kelompok yang memilih jalan perdamaian.

MUHAMMAD MUSLIM BAROKALLAH Duren Sawit, Jakarta Timur

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Gatra tanggal 14 Juni 2018.