16 Mei 2018

Pka Bisa Dekatkan Kaum Muda Aceh Dengan Kulturalnya



PEKAN Kebudayaan Aceh (PKA) VII akan berlangsung di Banda Aceh mulai 5 sampai 15 Agustus 2018. Wagub Nova Iriansyah selaku ketua panitia menyatakan, PKA kali ini akan mengangkat kembali seluruh khazanah kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di Aceh, dalam bentuk adat-istiadat, seni budaya, warisan sejarah, hingga berbagai produk kerajinan.

"Tujuannya agar masyarakat dan generasi muda Aceh dapat mengetahui kekayaan dan keaslian budayanya sendiri, di samping memperkuat status Aceh sebagai destinasi wisata budaya kepada mancanegara. Karena itulah, PKA VII mengangkat tema Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat," kata Nova.

Pelaksanaan PKA Ini bukan semata-mata untuk mempromosikan kebudayaan Aceh kepada masyarakat internasional, tapi bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat Aceh. "Salah satu hal yang sangat penting adalah bagaimana kita melayani tamu yang datang ke Aceh dengan filosofi peumulia jamee adat geutanyoe," jelas Wagub.

Tapi, ajang lima tahunan ini memang bukan saja harus tampil beda dengan PKA sebelumnya, melainkan harus menjanjikan kreativitas serta semangat baru yang diharapkan mendongkrak gairah pariwisata. Ma-kanya, selain menampilkan keragaman seni budaya, potensi ekonomi kreatif dari 23 kabupaten/kota juga harus ditampilkan sebanyak-banyaknya.

Kemudian, konten kebudayaan sebenarnya menjadi nafas utama PKA selain kepentingan ekonomi dan hiburan masyarakat. Dalam konteks refleksi kebudayaan, even ini hendaknya menimbulkan kesadaran generasi muda Aceh untuk menjadikan PKA sebagai salah satu ajang untuk mengenal, mencicipi, serta mencintai produk kebudayaan Aceh.

Artinya, identitas masyarakat Aceh dalam ajang PKA VII diharapkan tidak sekadar membawa pajangan simbol kebudayaan daerah. Akan tetapi, roh dan geliat kebudayaan Aceh yang tampil bersama potensi sosial ekonomi, mestinya mampu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Sarana edukasi yang kita maksudkan adalah yang menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mencintai sejarah hingga produk-produk kebudayaannya. Termasuk di dalamnya kesenian Aceh itu sendiri.

Pertanyaannya, semudah apa generasi muda Aceh menerima serta menghidupi arus kebudayaannya sendiri sebagaimana mereka dengan mudah menerima produk kebudayaan luar? Pertanyaan Ini tentu tidak mudah dijawab dan memerlukan kajian tersendiri. Meski demikian, kita percaya kultur keacehan belum tercabut habis pada generasi dl Tanah Rencong ini. Menjaga rasa bangga terhadap kebudayaan Aceh dalam benak generasi muda, bukanlah hal yang gampang, tapi perlu "pemeliharaan" dengan tetap mendekatkan mereka dengan kulturnya, antara lain melalui PKA VII.

Suara pembaca

Surat pembaca diambil dari Serambi Indonesia tanggal 16 Mei 2018.